Hari Perempuan Internasional: Menyoal Pendidikan Bagi Perempuan

    


    Setiap tanggal 8 Maret masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Dan tahun ini merupakan tahun ke-112 peringatan IWD. Tidaklah mudah untuk bisa mencapai angka satu abad lebih. Mengingat bagaimana perjalanan para perempuan dan laki-laki yang bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender. Ya, IWD merupakan momen untuk merefleksikan pencapaian dan melakukan berbagai aksi dalam mewujudkan kesetaraan gender.

    Salah satu bentuk ketidakadilan gender yang selalu menjadi sorotan ialah dalam ranah pendidikan. Pendidikan dan perempuan, kedua elemen yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Sistem pendidikan jika tak menyertakan perempuan maka itu bukan esensi pendidikan, karena pendidikan adalah bagimana menciptakan keadilan yang humanis karena dengan mengalienasi perempuan dari pendidikan, maka sama halnya dengan melanggengkan kebodohan untuk dominasi kekuasaan pada segelintir makhluk.

    Perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam hal pendidikan. Bahkan, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak ialah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang besar dalam melakukan pengembangan potensi anak. Bukan berarti tugas mendidik hanya diberikan kepada ibu semata, ayah juga berpengaruh terhadap proses pendidikan anak, namun tidak seotentik seorang ibu. Karena ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan anak.

    Pemikiran akan pentingnya pendidikan untuk perempuan di Indonesia dipaparkan oleh pemikir serta pegiat perempuan lokal yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan secara layak, dia adalah R.A. Kartini. Kartini menuangkan pemikirannya dalam surat-surat yang dikirimkan kepada J. H. Abendanon. Kumpulan surat pribadi Kartini tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1912 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Kumpulan surat Kartini tersebut menjadi sebuah alternatif pemikiran tentang pendidikan perempuan. Sebagai sebuah kritik sosial pada realitas, bahwasanya perempuan juga perlu pendidikan. Salah satu pokok substansi pemikiran Kartini adalah Emansipasi atau upaya mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan Pendidikan.

    Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan terhadap perempuan masih tergolong standar, tak jarang hal tersebut terjadi pada perempuan itu sendiri. Terkadang perempuan masih terjebak pada zona nyaman yang tak jauh dari dunia gemerlap, terdapat faktor internal dan eksternal sehingga menyebabkan pemikiran yang kurang akan dunia pendidikan. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang mengharuskan perempuan tak dapat merasakan senangnya hidup dalam dunia pendidikan. Di lain sisi, perempuan masih mengalami tindakan diskriminasi dan represif yang didasari oleh kekuatan fisik serta interpretasi agama yang cenderung dimaknai secara konservatif. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam konteks pendidikan bagi perempuan. 

    Maka perlu ditekankan jikalau kurang meratanya pendidikan terutama untuk perempuan, tidak hanya diakibatkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga ada pengaruh dari budaya. Padahal berpuluh-puluh tahun yang lalu, Kartini mengajarkan pentingnya emansipasi terhadap perempuan, minimal melalui pemberian akses pendidikan secara meluas. Namun, dalam praktiknya masih belum berjalan maksimal, sehingga perempuan masih terkungkung dalam sangkar emas. Paparan yang menunjukkan bahwa perempuan hingga kini masih perlu terus berjuang untuk menyuarakan haknya. Melalui Hari Perempuan Internasional, perempuan dapat membuat gerakan pemberdayaan perempuan agar suara-suara terdengar lebih lantang lagi. Perjuangan perempuan tidak hanya berhenti di sini, untuk itu teruslah bergerak dan serukan keadilan. Selamat Hari Perempuan Internasional!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat