Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Mahasiswa Baru, Selamat Datang dan Segera Bergeraklah!

“Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?”  (Victor Serge, Bolshevik)   Selamat Datang di Kampus Impian             Selamat datang datang di kampus impian. Tempat yang akan menemani mahasiswa-mahasiswa beruntung dalam waktu yang tak lama. Akan tet api , tahukah persentase antara yang lulus dan yang harus gigit jari? Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA/SMK/MAN yang sanggup meneruskan kuliah. Tidak berimbang. Itulah makanya disebut kaum ber...

Kesenian Mural dan Bagaimana Represifnya Negara

"Di negara liberal, kita bebas berkespresi, tetapi makan cari sendiri. Di negara komunis, kita tidak bebas berekspresi, tetapi diberi makan. Di Indonesia, kita tidak bebas berekspresi juga makan harus cari sendiri”. —Cak Nun   Sejarah Mural             Mural berasal dari kata “murus”, kata dari bahasa Latin yang berarti dinding. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mural berarti lukisan pada dinding. Mengutip Wikipedia, mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok, atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Menurut imural.id, jika ditilik dari sejarah, mural telah ada sejak 31.500 tahun yang lalu tepatnya pada masa prasejarah. Pada masa itu, terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah gua di Lascaux yaitu daerah di Selatan Prancis.             Di Indonesia, kemunculan mural dapat ditemukan sejak kemerdekaan Indone...

Materialisme Mahasiswa atau Idealisme Mahasiswa?

     Aktivisme mahasiswa yang mulai tergerus dari masa ke masa. Gaya hidup yang moderen menjadi trend saat ini tengah digandrungi kalangan pemuda khususnya mahasiswa. Betapa tidak, pada era ini telah banyak kemudahan yang dirasakan oleh generasi sekarang. Menariknya mahasiswa sekarang seolah tersedot oleh animo kemajuan tanpa lagi memiliki watak agent of change and social control. Segala sesuatu dinilai dengan materi semata, yang kaya akan mendapatkan posisi terhormat di kalangan mahasiswa.      Sedangkan yang biasa-biasa saja tentu takkan pernah mendapatkan apa-apa. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan aktivis di era 90-an yang memiliki jiwa patriotik dan kebangsaan. Pergeseran pola pemikiran mahasiswa dari intelektualisme menuju materialisme tengah terjadi. Hal ini juga berlaku bagi mantan aktivis mahasiswa yang kini tengah mengemban amanat bangsa dan negara di pemerintahan. Dimana yang kaya akan mendapatkan posisi, semantara yang biasa-biasa saja t...

Kita Adalah Bunga

     Lahir sebagai sebuah bunga yang diharapkan, yang ditumbuhkan dengan persiapan yang matang. Semoga semua begitu, karena tidak seharusnya bunga muncul pada lingkungan yang tidak sesuai. Bagi yang tetap tumbuh dan berkembang walaupun tidak dilingkungan yang tepat, adalah orang-orang luar biasa. Bagi yang tumbuh dan berkembang di lingkungan yang tepat? Adalah orang-orang yang diamanatkan hal-hal yang luar biasa, dan akan menjadi luar biasa karenanya.       Jangan takut ketika harus berhadapan dengan masalah baru, hal itu tidak akan berhenti muncul. Ketika dikandungan maka kita harus berhadapan dengan mimpi. Mungkin kita semua lupa, tapi aku yakin disana kita memimpikan dewasa kita. Ketika kita keluar pertama kali kita harus berhadapan dengan dunia baru, kita akan menangis. Karena kesempatan yang diberikan tuhan, untuk menjadi bunga sesungguhnya bagi lingkungan kita.      Kita adalah bunga dalam kehidupan kita sendiri, kita adalah p...

Urgensi UKT

     UKT memang menjadi syarat bagi mahasiswa untuk dapat mengikuti perkuliahan sekaligus sumber penghidupan bagi kampus UNY itu sendiri. Namun keberadaannya kini justru jadi masalah kembali di tengah pandemi Covid-19 ini. Mengapa demikian, hal itu dikarenakan para mahasiswa UNY merasa keberatan dengan besarnya UKT yang tetap disamakan tarifnya dengan kondisi sebelum datangnya pandemi ini.       Dalam kondisi seperti ini, bukan lagi ada alasan seperti semester lalu UKT sudah dianggarkan sehingga tidak dapat diganggu gugat. Semester ini tidak ada komporomi bagaimana uluran tangan dari pihak UNY untuk menggratiskan atau memotong UKT adalah salah satu vaksin terbaik bagi para mahasiswa yang entah bagaimana caranya hal itu musti terealisasi.       Mekanisme perkuliahan yang dilakukan secara daring yang dalam realitanya tak berjalan maksimal membuat para mahasiswa pun kian sakit hati. Lalu, untuk apa mahal-mahal bayar kuliah tapi kita ta...

Gratiskan UKT

     Memiliki pemahaman teori gerakan yang baik, namun hanya untuk konsumsi pribadi hanyalah sebuah tindakan onani/ masturbasi ilmu. Sebaik-baik pengetahuan, adalah yang dibagikan dan diamalkan kepada halayak ramai. Bukanlah hal yang baik jika pengetahuan hanya untuk memperhebat dan memperkaya diri sendiri. Tunjukkan pada aksi besok, UKT UNY gratis adalah hal yang mungkin!       Bagaimanapun penggratisan UKT perlu sokongan pergerakan massa yang masif guna memastikan hal itu segera direalisasikan lewat cara apapun yang dimungkinkan oleh birokrasi. Berdasarkan alur legal, pergerakan semua elemen dari BEM dan organisasi alternatif segera mengaudiensikan atau aksi langsung antara mahasiswa dan birokrasi untuk membuat kebijakan yang menjembatani kepentingan-kepentingan mahasiswa dalam hal penggratisan UKT. Segera bentuk perangkat pegerakan sebagai garda multi bentuk baik itu audiensi maupun aksi langsung yang berkesesuaian dalam tuntutan yang dilayangkan....

Represifnya Negara

     Bila tindak-tunduk represifnya negara semakin menjadi-jadi dalam membatasi kebebasan berpendapat, dan di satu sisi rakyat terus-menerus diabsenkan dari nalar diskursif kritisnya yang berimplikasi pada nihilnya kebenaran yang objektif, maka demokrasi itu sendiri sebenarnya sedang diopresi oleh anak kandungnya sendiri.       Walhasil, dalam situasi penuh pertikaian yang tak serba menentu dan hingar bingar ini, dapat membuat situasi yang serba frustasi. Pada situasi tersebut lah, kemudian membangkitkan fasisme dan otoritarianisme, demi mendisiplinkan situasi serta subyek-subyek di dalamnya.

Kebenaran Manusia

Kebenaran manusia adalah berdasarkan persetujuan dari banyak sekali pemikiran subjektif, pengalaman pribadi, dan juga fakta bahwa pikiran manusia sangat-sangat terbatas, maka bukankah kita, dalam setiap upaya mencari “esensi” atau sebuah kesimpulan aksiomatik akan selalu gagal? Menurut saya, memang beginilah kodratnya manusia.  Kebenaran tingkat lanjut semacam itu hanya milik tuhan, yaitu kebenaran yang absolut. Tidak ada cara untuk kita keluar dari sudut pandang kita sendiri. Oleh karena itu, kita sejatinya tidak mampu melihat segala hal sebagai apa adanya (esensi). Kita tidak akan mampu mencapai hal tersebut, atau dengan kata lain saya bisa bilang bahwa tidak ada yang namanya kebenaran, saat ini.

Doa Terbaik Untuk Kalian

Kedaulatan hidup adalah ketika rasa kemanusiaan masih ada dalam jiwa. Terlepas dari segala konflik yg sedang berlangsung, yang jelas menghancurkan kebebasan dan hak orang lain adalah perilaku yang melanggar HAM. Kemanusiaan itu seharusnya diperlakukan sama, tapi jika pelanggaran yang terjadi bagian dari kecil/besarnya kelompok kita sendiri, rasa marahnya akan lebih besar juga.  Semoga terus dan akan terus abadi, rahmat, berkah, dan kasih sayang bagi para martir pejuang kemerdekaan di Papua, Wadas, Kendeng, Jomboran, Rojava, Kinipan, Myanmar, Palestina, Uyghur, dan semua daerah di dunia ini yang sedang berada di bawah opresi kaum penindas. Doa terbaik untuk kalian!

Ok Boomer

     Banyak komentar dari oknum boomer dalam kritikan BEM UI ini, seperti jamanku dulu gini... mahasiswa sekarang udah gak ada taringnya...  sana balik lagi main pubg... bla bla bla, ini adalah sebuah kecacatan dalam berlogika. Mereka menggeneralisasi fakta yang belum terbukti benar sebagai referensi dalam berpendapat.       Dari komentar-komentar tersebut kita dapat melihat kerangka berpikir oknum boomer dalam memandang generasi muda (mahasiswa). Mereka berusaha menunjukkan dominansi generasinya sebagai pihak yang lebih unggul dan berwawasan dalam perkara pengalaman, demonstrasi, eksistensi, dll. Padahal, semakin menuanya usia seseorang belum tentu berbanding lurus dengan perkembangan kemampuan dan psikologisnya. Bukankah akan lebih bijaksana apabila fokus kriteria lebih dititikberatkan kepada kompetensi dan kapabilitas antar generasi?.     Mungkin hal itu hanyalah segelintir kisah dari derasnya perlakuan ageisme terhadap generasi ...

Saling Menguatkan

Ada yang senantiasa menjadikan keburukan sebagai lentera kehidupan. Laksana menerangi jalan dengan cahaya yang kelam, kian lama kian samar pula jalan yang hendak mereka lalu. Sebaliknya, ada yang senantiasa menjadikan kebaikan sebagai lentera kehidupan, bertambah kuat cahayanya benderang pula jalan yang dapat mereka lihat.  Barang luput kita sadari, apakah jalan benderang selalu menjamin keselamatan jika melangkah sendirian? Beruntunglah mereka yang saling memberikan penerangan, menunjukkan jalan, dan saling menjaga satu sama lain dimasa pandemi.

Beristirahatlah

Dan pada akhirnya, kita perlu berulang kali mengingatkan diri sendiri dan menguatkan tekad untuk beristirahat di tengah tarian ketidakpastian, di antara silih berganti jatuh cinta dan patah hati. Iya. Mesti terus-menerus latihan. Belajar tenang di tengah ketidakpastian dengan cara memahami bahwa hidup selalu tersusun atas ketidakpastian. Belajar untuk baik-baik saja meski dasar tempat kita berpijak lenyap dalam sekejap, karena memang pelajaran lebih dalam soal hidup ini ada pada saat kita jatuh.

Sering Abai

Tipisnya urgensi krisis dan kemawasan akan masalah bersama kurasa merupakan buah dari keabaian kolektif yang dengan kasih sayang dirawat setiap harinya. Namun, menjadi tidak abai dan tidak peduli pun kadang bukan hanya perkara pilihan, tetapi juga energi dan sumber daya sesuatu yang sulit didapatkan kebanyakan orang kini. Sampai lebih banyak orang mampu dan memilih untuk menyeka lamur dan mengamini bahwa di kota ini tengah, dan selalu, terjadi sesuatu, maka tak akan pernah ada apa pun di sini.

Selamat Berjuang Kamerad

Selamat berjuang menjadi manusia-manusia penuntut ilmu. Manusia-manusia yang semakin terdidik, semakin tinggi pula tingkat kepeduliannya, semakin tinggi pula kebermanfaatan dan kebermaknaannya, dan semakin tinggi pula tingkat kesadaran bahwa sesungguhnya ilmu kita akan semesta masih sangat terbatas, sehingga tidak bisa secuil pun kita merengkuh arogansi dalam jiwa-jiwa kita. Petualangan menunggu di depan mata. Jangan berhenti, demi apapun tetap pantang mundur. Persiapkan setiap perbekalan di setiap pos pemberhentian. Kemudian lanjutkan perjalanan kemanapun kehidupan mengantarkan kita berjalan. Selamat berjuang kamerad.

Kucingku

     Ada yang pernah menyatakan bahwa memelihara kucing adalah memelihara kesedihan yang tertunda. Hari ini kucing yang biasanya menghampiri dan menghiasi hari-hari ketika senang dan sedih, membuat hal itu tak lagi ada. Kucingku menghilang dari pandangan mata. Mungkin karena aku dengan bodohnya membiarkan pintu terbuka. Tapi, jika ia tidak kembali, mungkin karena sudah menemukan kebebasan yang ia damba.       Kini, kesedihan tak lagi bisa ditunda-tunda. Sambil menyicipi kesedihan, berharap kucingku segera ditemukan oleh siapapun, sama seperti kesedihanku yang berharap ditemukan oleh penawarnya, sang penunda kesedihan selanjutnya. Awalnya kukira itu hanya karena dia yang tak pandai menunda kesedihanku, tapi sepertinya itu hanya karena aku yang tak pantas untuk ditemani, dan hanya pantas untuk ditinggal pergi oleh kucing.

Menyoal Sebuah "Nama"

Apa yang kita tatap di masa depan bukan lagi persoalan bagaimana keegoisan hadir dalam pergerakan, melainkan pergerakan yang melahirkan kenyamanan bagi diri dan orang di sekitar. Kita tak bisa lagi berkumpul mempermasalahkan nama, ideologi, golongan, atau identitas me­lainkan bagaimana pergerakan berkembang melahirkan akar-akar keadilan sehingga tidak ada yang merasa tinggi diatas sesuatu atas yang lainnya dan menempat­kan kesetaraan untuk tujuan bersama.

Konflik Wadas dan Tindakan Represif Aparat

Perjuangan #WadasMelawan      Mengapa Wadas Menolak tambang? Wadas merupakan desa yang cukup produktif. Setiap tahun berbagai macam hasil panen dihasilkan, mulai dari rempah-rempah, palawija, buah-buahan, kopi, karet, dan aren. Namun, tanah yang subur tersebut, sekarang terancam oleh pertambangan. Warga dengan tegas menolak proyek pertambangan tersebut. Dalam AMDAL Bendungan Bener yg membutuhkan material urug dari Wadas, aktivitas pertambangan (dengan cara peledakan dinamit) disebutkan berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman. Namun jika melihat daerah Randuparang dan Gendol, jarak lokasi tambang dengan pemukiman tidak lebih dari 100 meter.       Tidak hanya akan merusak mata pencaharian dan ekosistem, aktivitas pertambangan juga akan merampas ruang hidup warga. Secara geografis, Desa Wadas berada pada perbukitan. Aktivitas pertambangan yg mengeruk bukit akan menyebabkan krisis ekologis kerusakan bentang alam. Artinya, jika pertambangan dilakukan, mak...

Demokrasi Dikebiri, Kebebasan Berpendapat Dibungkam, Negara Takut Kritik?

Panik gak? Panik gak? Paniklah masa enggak!      “Panik” kata yang bisa menggambarkan situasi pemerintah dan rektorat UI saat ini ketika kritik BEM UI atas kinerja pemerintah viral ke permukaan. Sebelumnya, pada tanggal 26 Juni 2021, BEM UI menyampaikan kritik bahwa Presiden Jokowi adalah The King Of Lip Service dengan mencantumkan foto Jokowi yang banyak menarik atensi publik. Kritik ini disampaikan karena kebijakan dan perkataan Jokowi yang dilontarkan berbeda dengan yang terjadi di lapangan dan pasti tidak terlepas dari pengaruh orang-orang di belakang Jokowi selama ini.      Bak kebakaran jenggot, pemerintah bereaksi cepat dengan mengerahkan simpatisan (buzzer) untuk mengonter narasi kritik dari BEM UI dengan nada-nada “tidak etis”, “kurang tata krama”, “mahasiswa kok gini”, “presiden itu simbol negara”, dll, dan juga dengan ancaman akan dilaporkan dengan UU ITE. Di lain sisi, rektorat UI juga merespon kritik tersebut dengan memanggil pengurus BEM UI pa...

Pembrangusan Demokrasi di Kampus Tamansiswa

Demokrasi di Kampus      Kebebasan akademik adalah  privilege  yang dimiliki oleh kampus. Dengan  privilege , artinya ada kesukarelaan negara untuk memberikan kewenangan kepada kampus untuk memiliki mekanisme, logika, dan cara hidupnya sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan dan kebenaran ilmiah. Derajat  privilege  itu ditentukan oleh watak negaranya. Kalau negaranya makin demokratis, maka  privilege  yang diberikan kepada kampus akan semakin luas. Begitupun sebaliknya.      Pelanggaran terhadap peraktik kebebasan akdemik di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru, parktik vulgar anti-demokratis yang secara terus-menerus diproduksi untuk mempertahankan status-quo. Dan hari ini, praktik-praktik itu menjadi begitu nyata: begitu dekatnya kampus dengan kekuasaan, dosen yang menjadi corong rezim (tidak semua), kampus yang anti kritik sampai berujung D.O, memberikan sanksi bagi mahasiswa yang memprotes rezim, dsb. Apa yang bisa k...

Rindu Sahabat

     Tak banyak kalimat yang dapat diungkap, tak cukup waktu untuk menangkap senyum tongkrongan, terlalu dalam ego untuk menelusuri jiwa, selisih keadaan datang menyayat hayat, sunyi menikam selepas ini, jalan panjang masih harus dilalui, namun kenangan masih hangat-hangatnya menghantui, banyak kisah yang tak mau mengalah untuk beranjak pergi.       Kini yang haru telah lewat dilalu, yang bahagia tinggal hanya untuk sekedar dikenang, yang duka sudah muak menghampiri, giliran rindu yang datang untuk mengisi posisi-posisi tersebut. Kisah ini mungkin tak mewah, namun tak dapat menjumpai apalagi membeli cerita ini dimanapun. Semoga tak lupa, maaf bila ada tutur kata, sikap maupun perbuatan yang tak berkenan di hati, senang dapat mengenal kalian semua. Sukses selalu untuk kita semua, Aamiin.

Makna Toleransi

     Toleransi itu bukan berarti kita musti beririsan ruang membuka privasi dan merajutnya menjadi sebuah bidang. Menindas prinsip hanya demi membuat orang lain senang. Masih banyak ruang-ruang bersama yang bisa kita gunakan untuk berbincang. Misalnya tentang jalanan berlubang yang perlu kita tambal bersama sehingga tidak menjadi kolam renang, tentang ronda malam bersama warga sehingga masyarakat bisa aman dan tidur dengan tenang, tentang kerja bakti demi menjaga semangat gotong royong agar tidak hilang, dan tentang berbagai peluang ekonomi agar kesejahteraan merata dan stabilitas nasional tidak guncang.      Itu baru beberapa, masih banyak ruang publik yang bisa kita singgahi bersama misalnya mengupayakan agar keadilan sosial benar-benar terwujud secara nyata atau mengupayakan bagaimana agar supremasi hukum bisa tegak dan menyentuh siapa saja. Itu semua lebih penting daripada sekadar meminta menari bersama agar semua bahagia sementara salah satu sisi ...

Kebaikan Kolektif

     Kebaikan kolektif yakni sesederhana kebaikan individual maupun sosial yang dilakukan secara bersama-sama. Mulai dari entitas terkecil (keluarga) sampai dengan entitas terbesar (masyarakat global). Hal ini tentu harus terus dilakukan oleh seluruh kawan yang sadar dan memilih jalan perjuangan, bahkan selepas kondisi ini berakhir. Tentunya, dengan metode taktis dan penuh pertimbangan matang, atas apa yang dimiliki dan dibutuhkan oleh rakyat. Api semangat “rakyat bantu rakyat” yang sedang berkobar seperti saat ini harus tetap dijaga nyalanya.      Sebab, perlawanan paling hebat dari rakyat ialah saat rakyat mampu tetap hidup dan sama sekali tidak menggantungkan hidupnya pada pemerintah yang legal. Mungkin seakan terdengar utopis dan heroik berlebih, sebab bagaimana caranya yang tinggal di pelosok bumi dapat memperbaiki dunia yang sebegitu luasnya. Nyatanya, kebaikan kolektif ini bisa kita wujudkan dengan langkah yang paling sederhana, yakni gotong roy...

Birokrasi yang Represif

     Belakangan ini, birokrasi mulai sering menggunakan kekuasaannya untuk mengancam kebebasan berpendapat para mahasiswanya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan semangat reformasi.      Meskipun reformasi telah berjalan 23 tahun, namun kebebasan berpendapat dan berekspresi masih rentan diintervensi jalur represif oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Jika hal ini masih berlanjut, maka UNY benar-benar darurat akal sehat.      Birokrasi tidak seharusnya menggunakan cara represif untuk menyelesaikan persoalan kemahasiswaan, itu cara primitif. Dan tidak semua penyelesaian persoalan diselesaikan dengan jalur hukum jika hanya terkait ranah kritik dan berpendapat. Hal itu tidak menyelesaikan masalah, justru terlihat mengamputasi ranah kebebasan.      Jika ruang-ruang berpendapat dan berekspresi semakin menyusut, maka apa lagi yang diharapkan dari kampus sebagai benteng terakhir demokrasi. Alam kampus yang harapannya menjadi...

Apa Kabar Rakyat Kecil

Apa kabar rakyat kecil? Apa kecewamu sudah redup? Apakah sila terakhir masih kau ingat?  Termarjinalkan dan diasingkan dari kepentingan negeri Sementara perwakilan rakyat itu bersemangat untuk disentuh dana suap Kota tidak kondusif dan seperti buta cara memandang manusia yang bersemayam di kolong jembatan  Berapa banyak yang bernapas hanya tahu berlalu-lalang di depan orang yang sedang memungut nasib Maafkan mereka Kini ku renungi wajahmu Menyelami tempat kumuhmu Tuhan dan doaku bersamamu rakyat kecil

Nrimo Ing Pandoom

     Kultur budaya jawa seperti "nrimo ing pandum" atau "guyup rukun gotong royong" sering dikooptasi oleh Pemerintah Jogja sebagai tagline agar mereka abai dari tanggung jawab mereka untuk menyejahterakan rakyat.       Juga, masyarakat dibawa untuk meromantisasi murahnya harga barang di Jogja tanpa dibawa untuk berpikir kritis bahwa murahnya harga tersebut sebagai akibat dari lalainya Pemerintah untuk mengurusi ketimpangan yang salah satunya dimanifestasikan dalam bentuk UMP rendah.     Kondisi sosial-politik Jogja yang bersifat kultural juga dijadikan tamengbagi kaum yang anti-kritik dengan menjustifikasi kondisi di Jogja sebagai sebuah tradisi turun temurun yang sudah "dari sononya" dan tidak bisa diubah. Jogja hanya bisa diromantisasi dari segi kultural, bukan sosial-politik.

Pergerakan Mahasiswa

     Pergerakan mahasiswa secara gramatikal bermakna usaha kebangkitan dan perbaikan oleh mahasiswa yang selalu didasari atas keresahan yang berkembang di masyarakat. Diskursus ini sangat rasional mengingat peran mahasiswa dalam dinamika kenegaraan. Pergerakan mahasiswa secara progresif dilakukan oleh intelektual muda yang berinisiasi untuk bersatu membawa perubahan. Mendirikan organisasi, menghimpun aliansi, mengadakan diskusi dan mengajak rakyat dalam bergerak. Hal ini tentu juga sejalan dengan peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, social control, dan moral force suatu pemerintahan.      Pergerakan mahasiswa tidak melulu harus turun ke jalan, tetapi bisa lewat media, aksi kreatif, advokasi, pencerdasan masyarakat, dll. Walapun begitu, masih banyak kritik, saran, dan tuntutan mahasiswa dan rakyat yang tidak didengar oleh pemerintah. Sehingga  pergerakan mahasiswa berbasis kerakyatan perlu terus digalakkan dan didukung semua pihak. ...

Revolusi Belum Selesai!

 Revolusi Belum Selesai, Bung!  Jangan terlena dan terlupa. Tujuan aksi adalah terciptanya perbaikan. Berubahnya kebijakan.  Kalau hanya sekedar mengumpulkan massa, memainkan wacana dan mengingatkan penguasa, maka tak usah bermimpi akan hadir Revolusi. Ia (Revolusi) akan tiba saat kita penuhi syarat-syarat kemenangan. Adanya pejuang-pejuang ikhlas, tegas dan cerdas. Adanya semangat pantang menyerah dari seluruh pasukan. Terjaganya fokus, determinasi dan daya tahan yang kokoh. Serta dibungkus persatuan dan kesamaan jalan juang.  Kawan, jalan Revolusi masih panjang. Kompador-kompador segera kita singkirkan. Benalu gerakan tak usah kita hiraukan. Fokus jalani garis perlawanan, jalan pembebasan.  Karena Revolusi belum selesai! Hayya 'Alal Falaah

Rektor Baru, Harapan Baru

Gambar
     Regenerasi kepemimpinan adalah suatu keniscayaan. Suksesi kepemimpinan di Universitas Negeri Yogyakarta dilaksanakan melalui tahapan-tahapan hingga terpilih rektor yang baru. Dalam prosesnya, tahapan-tahapan ini ternyata tidak berlangsung mulus, terdapat berbagai polemik hingga selesai ditetapkannya rektor baru.      Usai sudah proses pemilihan rektor UNY periode 2021-2025. Namun,  titik puncak yang sebenarnya bukanlah terlakasananya penjaringan rektor, melainkan kesuksesan kepemimpinan rektor yang terpilih. Setelah melalui proses panjang, akhirnya terpilihlah kandidat dengan nomor urut 4, Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO., sebagai penerima estafet kepemimpinan dari Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. Pelantikan Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO berlansung di Aula Ki Hajar Dewantoro, Gedung Kemendikbud dan langsung dilantik oleh mendikbud.       Dengan demikian, terhitung setelah pelantikan rektor baru, civitas acdemica UNY mem...

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Gambar
     Isu mengenai pendidikan tiap tahunnya selalu menjadi pembicaraan hangat. Hadirnya isu PTN-BH di beberapa perguruan tinggi di Indonesia termasuk UNY tentu menuai banyak kontroversi dilingkungan akademisi maupun masyarakat. Hal ini dianggap sebagai bentuk bergesernya paradigma pendidikan kearah komersialisasi yang kapitalistik (Darmaningtyas, 2009) atau bisa disebut sebagai kapitalisme akademik. Kapitalisme merayap masuk ke perguruan tinggi berusaha mereduksi esensi dari pendidikan yang outputnya hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi pasar.      PTN-BH merupakan singkatan dari Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum. Perguruan Tinggi yang mempunyai status ini merupakan perguruan tinggi yang didirikan pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom. Sehingga PTN-BH adalah Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangan perguruan tinggi itu sendiri.      PTN-BH muncul ket...

Pro-Kontra Kampus Mengajar, Bagaimana Akhirnya?

Gambar
          Dalam proses mencari solusi pendidikan terbaik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mencoba mengeluarkan program Kampus Mengajar. Program tersebut termasuk kedalam rangkaian kampus merdeka dengan mengajak mahasiswa semester 5 ke atas di perguruan tinggi negeri dan swasta untuk ikut mengajar siswa SD di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) selama 1 semester.      Program ini juga merupakan kerja sama antara Kemendikbud dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan akan diikuti oleh 15.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Sehingga tidak saja memberikan penguatan pembelajaran literasi dan numerasi mahasiswa tetapi yang mengikuti program Kampus Mengajar dengan lama tiga bulan akan mendapat bantuan biaya hidup Rp 700 ribu per bulan dan uang kuliah tunggal (UKT) maksimal Rp 2,4 juta.      Namun, program tersebut tidak terlepas tanpa polemik karena kritik hadir dari sejumlah pihak....

Hari Perempuan Internasional: Menyoal Pendidikan Bagi Perempuan

Gambar
          Setiap tanggal 8 Maret masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Dan tahun ini merupakan tahun ke-112 peringatan IWD. Tidaklah mudah untuk bisa mencapai angka satu abad lebih. Mengingat bagaimana perjalanan para perempuan dan laki-laki yang bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender. Ya, IWD merupakan momen untuk merefleksikan pencapaian dan melakukan berbagai aksi dalam mewujudkan kesetaraan gender.      Salah satu bentuk ketidakadilan gender yang selalu menjadi sorotan ialah dalam ranah pendidikan. Pendidikan dan perempuan, kedua elemen yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Sistem pendidikan jika tak menyertakan perempuan maka itu bukan esensi pendidikan, karena pendidikan adalah bagimana menciptakan keadilan yang humanis karena dengan mengalienasi perempuan dari pendidikan, maka sama halnya dengan melanggengkan kebodohan untuk dominasi kekuasaan pada segelintir makhlu...