Konflik Wadas dan Tindakan Represif Aparat
Perjuangan #WadasMelawan
Mengapa Wadas Menolak tambang? Wadas merupakan desa yang cukup produktif. Setiap tahun berbagai macam hasil panen dihasilkan, mulai dari rempah-rempah, palawija, buah-buahan, kopi, karet, dan aren. Namun, tanah yang subur tersebut, sekarang terancam oleh pertambangan. Warga dengan tegas menolak proyek pertambangan tersebut. Dalam AMDAL Bendungan Bener yg membutuhkan material urug dari Wadas, aktivitas pertambangan (dengan cara peledakan dinamit) disebutkan berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman. Namun jika melihat daerah Randuparang dan Gendol, jarak lokasi tambang dengan pemukiman tidak lebih dari 100 meter.
Tidak hanya akan merusak mata pencaharian dan ekosistem, aktivitas pertambangan juga akan merampas ruang hidup warga. Secara geografis, Desa Wadas berada pada perbukitan. Aktivitas pertambangan yg mengeruk bukit akan menyebabkan krisis ekologis kerusakan bentang alam. Artinya, jika pertambangan dilakukan, maka sama halnya dengan mengusir ruang hidup warga Desa Wadas. Hal ini belum termasuk dampak lingkungan yg akan dialami oleh desa-desa sekitarnya. Sisi lain, proyek tambang yang akan dioperasikan di Wadas tidak mempunyai AMDAL, dan mengganggu aktivitas warga. Tambang di Wadas sudah cacat prosedural sejak awal, dan warga yg sadar akan hal tersebut terus melakukan perlawanan, agar lingkungan mereka tidak dirusak.
Masyarakat Wadas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (GEMPA DEWA) menolak adanya tambang quarry andesit yang digunakan untuk pembangunan Bendungan Bener Purworejo. Hingga detik ini (23/4/2021), mereka masih berjuang dan akan terus memperjuangkan alamnya dari setan-setan tanah. Sudah saatnya kita bersolidaritas, saling membantu, dan menjaga ruang hidup dan penghidupan, karena proyek tambang dan pengrusakan lingkungan bisa datang menghampiri siapa saja, kapan saja, dimana saja!
Kronologi Penangkapan oleh Aparat
Pada tanggal 23 April 2021 ancaman kembali menghampiri warga wadas, padahal sehari sebelumnya bertepatan diperingati dengan hari bumi nasional. Tiba-tiba sekitar pukul 11.00 WIB, warga kedatangan tamu tidak diundang, beberapa aparat kepolisian dan TNI datang menggunakan mobil bermuatan banyak untuk melakukan sosialisasi pemasangan patok untuk keperluan penambangan batu andesit. Hal tersebut masih salah satu lanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan Bendungan Bener yang masih menjadi polemik.
Dengan hal itu warga wadas dan solidaritas langsung menghadang dengan memblokade jalan dengan batang pohon besar. Aparat yang datang dengan senjata dan gergaji mesin langsung masuk dan dihadang warga yang duduk sambil melantunkan sholawat nabi. Alih-alih mengundurkan diri karena tidak diterima warga, aparat semakin merangsek masuk dengan mendorong dan mendorong warga untuk minggir.
Pada pukul 11.30 terjadi bentrokan. Beberapa warga dan kawan-kawan yang bersolidaritas mendapat kekerasan, pukulan, penarikan, dan ditangkap dengan tidak manusiawi (secara paksa) oleh aparat. Warga akhirnya mundur setelah polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan warga. Dari kejadian itu, ada beberapa warga, mahasiswa, dan kuasa hukum yang ditangkap. Dari data sementara yang dihimpun ada 12 nama-nama yang ditangkap termasuk mahasiswa UNY dan 9 orang mengalami tindak kekerasan.
Komentar
Posting Komentar