Kucingku

    Ada yang pernah menyatakan bahwa memelihara kucing adalah memelihara kesedihan yang tertunda. Hari ini kucing yang biasanya menghampiri dan menghiasi hari-hari ketika senang dan sedih, membuat hal itu tak lagi ada. Kucingku menghilang dari pandangan mata. Mungkin karena aku dengan bodohnya membiarkan pintu terbuka. Tapi, jika ia tidak kembali, mungkin karena sudah menemukan kebebasan yang ia damba. 

    Kini, kesedihan tak lagi bisa ditunda-tunda. Sambil menyicipi kesedihan, berharap kucingku segera ditemukan oleh siapapun, sama seperti kesedihanku yang berharap ditemukan oleh penawarnya, sang penunda kesedihan selanjutnya. Awalnya kukira itu hanya karena dia yang tak pandai menunda kesedihanku, tapi sepertinya itu hanya karena aku yang tak pantas untuk ditemani, dan hanya pantas untuk ditinggal pergi oleh kucing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat