Mahasiswa Baru, Selamat Datang dan Segera Bergeraklah!

“Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?” 

(Victor Serge, Bolshevik)

 

Selamat Datang di Kampus Impian

            Selamat datang datang di kampus impian. Tempat yang akan menemani mahasiswa-mahasiswa beruntung dalam waktu yang tak lama. Akan tetapi, tahukah persentase antara yang lulus dan yang harus gigit jari? Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA/SMK/MAN yang sanggup meneruskan kuliah. Tidak berimbang. Itulah makanya disebut kaum beruntung. Beruntung karena kesempatan menjadi mahasiswa tidak dimiliki setiap orang. Setelah itu akan mati-matian belajar membahas kumpulan soal yang sudah dirancang sedemikian rupa.

            Di kampus ini pasti akan menemukan mahasiswa yang berceloteh: mahasiswa itu agen perubahan, mahasiswa itu calon pemimpin, mahasiswa itu intelektual muda. Jargon yang sanggup menembus relung hati terdalam dan menghantarkan ke dunia mimpi. Hari ini dan besok akan memasuki kampus yang memiliki tradisi pendidikan yang buram. Buram ketika absensi yang sangat ketat mengurung kebebesan berekspresi mahasiswa. Buram saat pelajaran tidak membuat cerdik, tetapi membuat kepatuhan akan ketidakadilan. Silakan boleh tidak percaya, tapi inilah kenyataannya: sebagian besar mahasiswa hanyalah fokus mengejar nilai dan lulus cepat.

 

Jangan Jadikan Gelar dan IPK Tujuan Utama

            Ilmu yang akan digulati selama kuliah kelak akan mempermudah menantang kehidupan. Demikian bentuk idealnya. Itukah yang akan terjadi? Setiap universitas, lazimnya, menjamin setiap lulusannya dan jaminan pasti salah satunya adalah menjadi pengangguran. Ada banyak sarjana menganggur dan lebih banyak lagi sarjana yang bekerja sia-sia. Sehingga, jangan jadikan sarjana itu tujuan utamanya.

            Terlebih, jangan meyakini bahwa IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tinggi itu segalanya. Sudah banyak kepercayaan kalau IPK tinggi tak menjamin segalanya. Tengok saja, banyak tokoh, para penemu, hingga aktor yang kuliahnya pernah gagal, namun karirnya gemilang. IPK itu hanya perkakas kuliah yang diperebutkan dengan tenaga seadanya saja. Jangan terlampau berburu, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Ringkasnya, kuliah tak hanya berpusat pada apa yang ada di bangku dan apa yang dikatakan oleh dosen. Itu sebabnya biarkan petualangan membawa ke sana kemari.

 

Organisir Diri dan Sekitar

            Kampus memberi pengalaman yang tak dapat peroleh di mana-mana. Di antaranya adalah organisasi. Sangkar yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani. Dilatih di sana untuk melawan apa yang memang sepatutnya dilawan. Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, hingga membela mereka yang ditindas. Di sanalah dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Tak ada mata kuliah satupun yang bermuatan itu semua. Di organisasi adalah pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal tersebut. Maka, jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Jangan khawatir karena di sanalah akan tersesat di jalan yang benar. Walau tak dijanjikan IPK tinggi atau menang lomba, tetapi memiliki pengalaman yang lebih berharga ketimbang jadi juara.

            Tak sedikit orang yang punya pengalaman organisasi kini menikmati kenangan manis. Kenangan ketika memprotes tindakan aparat, menentang keputusan yang tak adil, dan membangkang pada kebijakan yang merugikan. Bukan hanya kenangan, tetapi mereka menuai hasil yang sepadan: lebih berani mengambil posisi, tak gampang berkhianat pada pendirian, dan menghargai kebebasan mengemukakan pandangan. Itu sebabnya, organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya. Bukan diajarkan untuk meraih prestasi, namun dibimbing untuk memahami bahwa dasar hidup itu adalah solidaritas dan kepedulian. Dasar hidup itu yang akan membawa pada keyakinan untuk selalu memihak ketika ada lapisan yang dizalimi dan tak mudah membuat untuk membenarkan tiap putusan yang membawa binasa.

 

Kawal Selalu Kebijakan Kampus

            Tugas besar mengawal kebijakan kampus selalu menanti di depan, terkadang kebijakan-kebijakan kampus banyak yang merugikan mahasiswa. Tidak jarang pula, petinggi-pentinggi kampus bersekongkol dengan elite oligarki negara ini. Memang tidak mudah untuk mengawal semua ini. Oleh sebab itu, harus terjun langsung, berpetualang kesana kemari, mengawal kebenaran dunia kampus.

            Kebijakan-kebijakan seperti PTN-BH (privatisasi dan komersialisasi pendidikan), fasilitas yang belum memadai, pelarangan diskusi dan konsolidasi, pemberangusan demokrasi kampus, naiknya UKT (Uang Kuliah Tunggal), semakin tingginya UPPA, maraknya kasus kekerasan seksual, dan masih banyak isu lain untuk dikawal. Kesadaran terhadap realitas inilah merupakan harapan untuk mahasiswa, walaupun amat disayangkan bahwa kesadaran adalah selemah-lemahnya perlawanan. Jadi, mari memulai untuk sadar akan situasi kampus ini!.

 

Tataplah Wajah Negara Ini, Mahasiswa

            Kini, tataplah wajah para pendiri republik ini. Tak ada kemewahan yang tampak di wajahnya. Air muka mereka menyiratkan harapan dan kehendak. Harapan bahwa negeri ini bisa dibangun dengan cara mandiri dan kehendak untuk membuat bangsa ini bisa punya pengaruh. Keyakinan itu kini rontok karena bangsa ini terlanjur terbelit dalam hutang dan sulit untuk menampik kehendak bangsa lain. Seperti ditampar melihat bangsa ini bingung untuk membuat rakyatnya sejahtera: diganti menteri, diganti kebijakan, hingga diganti kurikulum. Kehabisan akal karena tak punya gagasan, ide, dan keberanian untuk mengambil jalan baru.

            Negeri yang teramat kaya ini tidak bisa menggratiskan biaya kuliah. Negeri ini adalah negeri uzur. Mencicipi alam kemerdekaan lebih dari tujuh dasawarsa, belum mampu memberikan jaminan apapun selain jaminan ketidakpastian. Menjadi pelajar di negeri yang mengalami kesusahan. Peminta-minta menjadi hiasan di perempatan jalan. Sawah-sawah penopang hidup petani beralih fungsi menjadi pemukiman elite. Hutan sudah gundul. Pedagang kaki lima harus kejar-kejaran dengan petugas pamong praja. Selayaknyalah realitas ini dikupas tuntas di ruang-ruang kuliah. Pendidikan gagal menjelaskan realitas ini. Pendidikan lebih banyak menampilkan fantasi dan mimpi. Pendidikan tak pernah mendekatkan dengan alam sekitar.

 

Jadilah Generasi Penerus

            Saatnya sebagai mahasiswa memutus rantai kegelapan negara ini. Tak hanya dengan belajar tapi bergaul serta berpetualang melihat kehidupan rakyat miskin yang sebenarnya. Biarkan amarah berkobar melihat ketidakadilan dan jangan takut jika memang punya keinginan untuk membela mereka. Mungkin tak ada dukungan atau mungkin dijatuhi hukuman. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa itu adalah ongkos terindah dari sebuah posisi perjuangan.

            Kini, langit kampus itu akan jadi saksi pertumbuhan keyakinan. Jejak-jejak muda seperti apa yang hendak ditoreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentuk. Jika sikap berani yang ditanam niscaya akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang di semai kelak akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan, terhadap ketidakadilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka, jadilah mahasiswa yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak berambisi menggapai nilai tinggi saja.

 

Bisa Bergerak dari Sekarang

            Sejak menjadi mahasiswa merdekalah sejak dalam pemikiran dan perbuatan. Tantanglah semua yang dianggap tidak ada dasar sejarah dan akal. Beranikan untuk menerobos tabir-tabir ketakutan yang diwariskan oleh penguasa masa lampau. Meski waktu tak panjang berusahalah untuk mendobrak tatanan buntu ini. Sebab jika mampu meruntuhkan tembok itu sedikit saja, maka sesungguhnya sudah memberi jalan bagi petualang berikutnya. Mahasiswa baru yang terus terlibat menyudahi tatanan yang usang.

            Lantas, apa yang bisa diperbuat? Berorganisasilah. Berkumpullah bersama teman-teman. Di organisasi akan mengalami, menyelesaikan, dan mengerjakan pelbagai perkara bersama. Organisasi adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berpikir dalam pendidikan. Utuhkan pribadi dengan kemampuan berikut, yang tidak boleh dianggap enteng: membaca dan menulis. Membaca membuat kita lebih mengenal dunia dengan semua tetek-bengeknya. Menulis akan mengenalkan siapa kita sebenarnya. Selamat datang mahasiswa baru, segeralah bergerak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat