Materialisme Mahasiswa atau Idealisme Mahasiswa?

    Aktivisme mahasiswa yang mulai tergerus dari masa ke masa. Gaya hidup yang moderen menjadi trend saat ini tengah digandrungi kalangan pemuda khususnya mahasiswa. Betapa tidak, pada era ini telah banyak kemudahan yang dirasakan oleh generasi sekarang. Menariknya mahasiswa sekarang seolah tersedot oleh animo kemajuan tanpa lagi memiliki watak agent of change and social control. Segala sesuatu dinilai dengan materi semata, yang kaya akan mendapatkan posisi terhormat di kalangan mahasiswa.

    Sedangkan yang biasa-biasa saja tentu takkan pernah mendapatkan apa-apa. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan aktivis di era 90-an yang memiliki jiwa patriotik dan kebangsaan. Pergeseran pola pemikiran mahasiswa dari intelektualisme menuju materialisme tengah terjadi. Hal ini juga berlaku bagi mantan aktivis mahasiswa yang kini tengah mengemban amanat bangsa dan negara di pemerintahan. Dimana yang kaya akan mendapatkan posisi, semantara yang biasa-biasa saja takkan pernah mampu bersaing dengan mereka. Orang pandai kalah dengan pemilik modal inilah yang tengah terjadi di negeri ini.

    Mayoritas mahasiswa yang dulunya aktivis banyak menjadi pejabat pemerintahan di era ini. Diantara mereka banyak sekali yang mengalami goncangan idealisme. Seperti kita ketahui bersama aktivis kampus yang dulunya giat dalam menyuarakan kebenaran dan menolak kezaliman. Faktanya ketika aktivis tersebut menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan terjadi perubahan yang luar biasa, pola pikir yang jauh dari harapan. Pertanyaannya sekarang, apakah jabatan mampu mengubah idealisme?. Jawabannya tidak lain adalah jabatan bisa mengubah idealism seseorang.

    Bukan hanya jabatan di pemerintahan saja yang menjadi rebutan, bahkan jabatan mahasiwa di kampus, katakanlah Badan Eksekutif Mahasiswa yang diperebutkan oleh mahasiswa. Tetapi ketika mereka duduk dalam struktural, belum mampu menjadi wakil mahasiswa yang telah memilihnya. Suatu yang ironis, ketika sebelum menjabat dengan semangat perjuangan mereka lantang menyuarakan aspirasi dan tuntutan. Tetapi ketika jabatan telah disandang semua idealisme dalam pikiran sirna tak berbekas.

    Seringkali kita ketahui bersama mahasiswa terkadang mencari keuntungan finansial ketika berjuang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Entah itu mendapatkan uang atau sekedar mendapatkan posisi atau jabatan. Tidak ada yang murni dari lubuk hati guna mengabdi kepada masyarakat. Pasti ada sesuatu lainnya yang ingin digapai, disamping melakukan perjuangan. Inilah akhir dari teori Karl Marx tentang materialisme yang menjadi tuhan pada abad ini.

    Satu hal yang harus menjadi pedoman mahasiswa yaitu jadilah manusia yang baik yang bermanfaat bagi sesamanya. Hidup adalah mengabdi, gerakan idealisme mahasiswa harus mulai dibangun kembali. Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda hebat yang memiliki integritas dan idealisme yang kuat sebagai tameng menghadapi dinamika problematika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat