Nrimo Ing Pandoom
Kultur budaya jawa seperti "nrimo ing pandum" atau "guyup rukun gotong royong" sering dikooptasi oleh Pemerintah Jogja sebagai tagline agar mereka abai dari tanggung jawab mereka untuk menyejahterakan rakyat.
Juga, masyarakat dibawa untuk meromantisasi murahnya harga barang di Jogja tanpa dibawa untuk berpikir kritis bahwa murahnya harga tersebut sebagai akibat dari lalainya Pemerintah untuk mengurusi ketimpangan yang salah satunya dimanifestasikan dalam bentuk UMP rendah.
Kondisi sosial-politik Jogja yang bersifat kultural juga dijadikan tamengbagi kaum yang anti-kritik dengan menjustifikasi kondisi di Jogja sebagai sebuah tradisi turun temurun yang sudah "dari sononya" dan tidak bisa diubah. Jogja hanya bisa diromantisasi dari segi kultural, bukan sosial-politik.
Komentar
Posting Komentar