Panggung PKKMB, Lupa Esensi Demi Eksistensi

  

    

    PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) adalah proses orientasi mahasiswa baru terhadap kehidupan kampus. Selaras dengan namanya, PKKMB berfungsi sebagai tahap awal berkenalan dengan kampus yang akan menjadi tempat menimba ilmu selama beberapa tahun ke depan. PKKMB bisa disebut sebagai masa transisi, karena dalam masa ini yang dulunya adalah seorang siswa akan berubah menjadi seorang mahasiswa. Berbagai macam latar belakang, asas, tujuan, serta landasan hukum mengenai PKKMB ini sudah tertera, sehingga kegiatan ini sudah ada legitimasi hukum dan legal adanya.

    Kegiatan tahunan yang telah membudaya di lingkungan UNY ini seakan-akan menjadi momok yang cukup membuat mahasiswa baru gelisah diawal-awal bergantinya status mereka. Model pendidikan yang di terapkan oleh perguruan tinggi menuntut inisiatif mahasiswa baru untuk berpikir kritis tentang segala hal yang ada disekitarnya. Tak hanya itu, mahasiswa baru pun diharapkan menjadi orang yang berani dan bebas dalam menyampaikan pikiran kritisnya tersebut. Di sini, kampus seharusnya mengimbangi dengan menciptakan suasana yang mendukung kebebasan untuk berpendapat tapi yang terjadi setelah PKKMB malah sebaliknya. Ketika menjadi intelektual kritis yang berani menyuarakan pendapat, mahasiswa malah dihabisi dengan segala tindakan represif dari internal maupun eksternal.

    Semarak PKKMB tidak pernah lepas dari berbagai persoalan, baik dari sistem, peraturan, pelaksanaan, fasilitas, egosentris fakultas, hingga pertambahan mahasiswa baru tiap tahunnya. Berbicara masalah sistem pelaksanaan, PKKMB UNY dilaksanakan didalam GOR UNY dengan keadaan desak-desakan karena penambahan jumlah mahasiswa baru dari tahun-ketahun yang melonjak tidak diikuti penambahan kapasitas GOR. Mahasiswa baru tidak sedikit yang pingsan dan sakit harus menepi ke tim medis yang dimana seharusnya mereka fokus mengikuti rangkaian PKKMB menjadi terganggu, ditakutkan materi dan esensi dari PKKMB tidak mereka dapatkan. Bahkan, harus ada fakultas yang mengalah tidak mendapatkan tempat di tribun GOR dan konflik saling adu berebut tempat duduk tidak terhindarkan demi pertunjukan aksi dari fakultas masing-masing. 

    Setiap tahun fakultas memutar otak untuk bagaimana menjadikan PKKMB ini adalah momen terkenang yang tak terlupakan. Dalam keadaan desak-desakan, mahasiswa baru setiap fakultas diajak berlomba-lomba untuk memberikan penampilan terbaik dihadapan fakultas lain. Di lain sisi, ada maksud dari fakultas untuk mencari branding mereka, agar terlihat yang paling baik dan nomor satu dimata mabanya maupun fakultas lain dengan berbagai macam koreo, jargon, yel-yel melewati PKKMB ini. Seakan-akan berpandangan bahwa ke suksesan dan kegagahan di PKKMB diukur melalui seberapa bagusnya koreo, yel-yel, dan jargon yang dibuat dalam PKKMB.

    Apakah harus ada revolusi sistem PKKMB UNY? Harus. Mulai dari sekarang BEM dan DPM di tingkat Fakultas maupun Universitas harus bisa menurunkan ego masing-masing dan saling bersinergi untuk menciptakan sistem yang bisa mengembalikan esensi dari PKKMB. Mengkritik sistem PKKMB saat ini dan memikirkan pembaruan dari jauh-jauh hari menjadi gambaran keresahan mahasiswa pada sistem usang saat ini sudah tidak relevan digunakan kembali. Kebebasan berpikir dan berpendapat tak pernah dibatasi waktu dan hierarki. Siapapun dan kapanpun bebas untuk menyerukan pendapat mereka tentang PKKMB. Kini tinggal bagaimana birokrasi menyikapinya. Apakah mau menunggu ada korban dari mahasiswa yang berdesak-desakan dan aksi sikut-menyikut antar fakultas mau terjadi lagi?

    Melihat dibangunnya kampus Gunungkidul, otomatis pertambahan mahasiswa baru UNY bertambah siginifikan. Penggunaan GOR sudah tidak memungkinkan, birokrasi perlu memperhatikan tempat PKKMB yang baru agar mencakup seluruh mahasiswa UNY seperti opsi pemindahan lokasi ke outdoor perlu dipertimbangkan. Dapat kita melihat tetangga, PPSMB UGM yang diadakan outdoor bisa menyatukan semua fakultas untuk koreo bersama-sama demi satu almamater sehingga mempermudah mendapatkan esensinya, belajar dari mereka tidak salah. Jangan sampai jatuh dilubang yang sama, UNY. 

    Apakah PKKMB hanya untuk memperlihatkan keunggulan koreo, jargon, yel-yel setiap fakultas saja? Apakah kesuksesan PKKMB hanya tergantung dengan selesai acaranya saja? Apakah ada jaminan setiap mahasiswa bisa menerima esensi PKKMB dengan keadaan seperti itu Apakah PKKMB hanya sebatas penyampaian visi misi kampus saja?

    PKKMB yang fitrahnya mencetak generasi-generasi penerus yang tak hanya cerdas tapi juga berakhlak kritis, yang mampu berkata salah dengan lantang bahwa itu salah dan dapat mengubah hal tersebut menjadi sebuah kebenaran, yang fitrahnya mencetak mahasiswa baru sebagai pengubah nasib bangsa kedepannya. Mereka lupa mengenai hal tersebut, dan lebih mempentingkan branding, keunggulan, dan eksistensi belaka.

    Akhirnya, PKKMB hanya menjadi panggung eksistensi semata, ajang hura- hura. Berharap semeriah, serumit, sekeren, dan semewah mungkin tanpa diimbangi esensi dari PKKMB itu sendiri. Jika model PKKMB semacam ini sudah merupakan tradisi turunan dari angkatan sebelumnya. Keberanian dari panitia untuk mengubah PKKMB menjadi lebih sederhana tanpa mengurangi esensinya sebagai upaya mengenalkan kampus tentu patut diapresiasi. Hanya saja, kapan itu akan terjadi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat