Rektor Baru, Harapan Baru

    Regenerasi kepemimpinan adalah suatu keniscayaan. Suksesi kepemimpinan di Universitas Negeri Yogyakarta dilaksanakan melalui tahapan-tahapan hingga terpilih rektor yang baru. Dalam prosesnya, tahapan-tahapan ini ternyata tidak berlangsung mulus, terdapat berbagai polemik hingga selesai ditetapkannya rektor baru.

    Usai sudah proses pemilihan rektor UNY periode 2021-2025. Namun,  titik puncak yang sebenarnya bukanlah terlakasananya penjaringan rektor, melainkan kesuksesan kepemimpinan rektor yang terpilih. Setelah melalui proses panjang, akhirnya terpilihlah kandidat dengan nomor urut 4, Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO., sebagai penerima estafet kepemimpinan dari Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. Pelantikan Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO berlansung di Aula Ki Hajar Dewantoro, Gedung Kemendikbud dan langsung dilantik oleh mendikbud. 

    Dengan demikian, terhitung setelah pelantikan rektor baru, civitas acdemica UNY memiliki harapan baru. Terpilihnya rektor baru diharapkan dapat mengembalikan darah segar ke jantung UNY. Kehadiran darah segar ini lantas dipompakan ke seluruh civitas academica oleh dorongan semangat perubahan yang digerakkan oleh optimisme yang tersebar di seluruh pelosok kampus.  Pengalaman rektor sebelumnya bisa menjadi evaluasi bahwa spirit perjuangan memiliki kemampuan yang tak terbatas untuk menghadapi berbagai rintangan karena adanya harapan.

    Pergantian rektor UNY tidak lantas menjadikan segala tantangan di UNY lenyap seketika. Tantangan yang tidak pernah surut dalam setiap kelembagaan menjadi hal mutlak yang harus dihadapi para pemimpinnya, tidak terkecuali rektor baru UNY tersebut. UNY harus bisa dirujuk oleh masyarakat dan perguruan tinggi lainnya supaya menandakan bahwa kita benar-benar berkualitas dalam ber-tri darma perguruan tinggi. Contohnya dalam hal pendidikan, karya penelitian, produktivitas keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat. 

    Civitas academica UNY hadir dalam kancah kehidupan yang kompetitif sehingga hal termudah yang dapat dilihat ada pada dua hal, yakni karya dosen dan karya mahasiswa. Kedua hal inilah yang kemudian menjadi penentu kualitas UNY di tengah masyarakat pada umumnya. Tantangan yang muncul bukan hanya dari segi akademik saja, Rektor UNY memiliki tantangan yang besar dari segi sarana dan prasarana. Prestasi yang memuncak lumrahnya diimbangi oleh sarana yang maksimal, baik dari sisi fisik gedung, laboratorium, maupun unsur pendukung lainnya. Dilain sisi, kebebasan berpendapat mahasiswa jangan sampai terancam karena sangat bertolak belakang dengan semangat reformasi. Jika ruang-ruang berpendapat dan berekspresi semakin menyusut, maka apa lagi yang diharapkan dari kampus sebagai benteng terakhir demokrasi. Alam kampus yang harapannya menjadi alam demokratis kini menjadi alam yang paling represif.

    Merupakan harapan besar mahasiswa UNY yang harus dibenahi rektor baru UNY dalam meningkatkan sarana prasana, muutu pendidikan, dan iklim demokrasi hari ini. Tentunya jabatan tersebut bukan hanya sekadar kepercayaan melainkan sebuah kehormatan. Dengan dilantiknya rektor baru UNY, maka tentunya diharapakan bisa membawa angin segar bagi kampus pendidikan yang sudah lama mahasiswanya berteriak soal keresahan yang sampai hari ini belum diwujudkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat