Mengenang 17 Tahun Kasus Pembunuhan Munir Said Thalib
Pada 7 September 2004, Munir meninggal di dalam pesawat GA-974 saat perjalanan menuju ke Amsterdam, Belanda. Setelah 17 tahun berlalu, kasus meninggalnya Munir belum juga menemukan titik terang. Kendati demikian, ia akan terus dikenang dan dijadikan inspirasi bagi bangsa Indonesia dalam memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia. Berikut beberapa kata-kata bijak Munir Said Thalib yang bisa memotivasi untuk selalu kita teladani:
1. Membangun sebuah bangsa adalah membangun sebuah peradaban.
Kalimat tersebut menjelaskan bahwa dalam proses membangun suatu bangsa secara otomatis membangun peradaban ke arah kemajuan dalam segi apapun, baik pendidikan, ekonomi, budaya, hukum, sosial, kesehatan, dll. Menjadi suatu keharusan pemerintah dan rakyat untuk saling berkontribusi dengan selalu mengisi dan berperan aktif memajukan bangsa sesuai dengan bidang yang digeluti.
2. Mereka berebut kuasa, mereka menentang senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita akan membiarkan para pengecut itu tetap gagah? Saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ada di baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab, yang mereka akan bayar sampai detik manapun.
Kalimat tersebut menjelaskan bagaimana represifnya negara lewat tindakan penguasa yang merebut kekuasan sewenang-wenang dan brutalnya aparat. Ketika rakyat ada yang protes dengan berunjuk rasa turun ke jalan, para aparat dikerahkan untuk membungkam dengan menenteng senjata lalu menembak rakyat dengan peluru tajam, peluru karet, gas air mata, water cannon, dll. Setelah banyak jatuh korban, mereka bersembunyi di balik kata “kami hanya menjalankan tugas” dari penguasa. Apakah para aparat itu akan gagah? Tidak. Karena rakyat akan memandang stigma negatif ke mereka hingga kapanpun nanti.
3. Aku harus tenang walaupun takut. Untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, cuma yang coba aku temukan merasionalisasi rasa takut.
Munir adalah sosok yang bijaksana. Itu dapat dibuktikan dengan kata-kata beliau di atas. Meskipun takut, beliau tetap tenang agar semua orang tidak takut. Semua orang pasti punya rasa takut, sehingga beliau mencoba merasionalisasi rasa tersebut. Itu pun bisa kita gunakan dalam langkah gerak kita dalam mengawal kebijakan pemerintah, dengan bagaimana rasa takut untuk mengkritik jangan sampai hadir. Gunakanlah rasionalitas dalam segala bentuk perlawanan karena jika takut, kita akan selalu tertindas dengan membiarkan penguasa sewenang-sewenang.
4. Memerangi kekufuran agar orang tidak kufur, sama saja memerangi kemiskinan agar orang tidak miskin. Bukannya yang miskin diperangi.
Kalimat di atas menjelaskan bahwa dalam memerangi kufur dengan membuat orang agar tidak kufur. Analogi tersebut berlaku ketika dalam memerangi kemiskian. Di mana dalam memerangi kemiskinan, seharusnya membuat orang agar tidak miskin. Akan tetapi, kenyataannya banyak orang-orang miskin diperangi seperti tunawisma ditangkap, pengamen dibuang, pemulung diusir, bantuan sosial dikorupsi, dan rakyat selalu disalahkan. Dalam kalimat tersebut, Munir secara tegas mengkritik bagaimana realita di masyarakat yang seakan-akan orang kaya semakin kaya karena memerangi dan orang miskin semakin miskin karena diperangi. Seharusnya, kita bisa belajar dari kalimat tersebut agar hal-hal seperti itu tidak terjadi di masyarakat kita.
5. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak berpihak kepada yang tertindas
Semua agama mengajarkan kebaikan, termasuk agama Islam. Dalam Islam menjelaskan secara tegas kita harus saling bergotong-royong, bertoleransi, bekerja sama, saling membantu, saling menjaga, dll. Kalimat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam harus selalu berpihak ke kaum tertindas, apapun alasannya. Tidak hanya agama Islam, agama lain juga harus selalu berpihak kaum tertindas, termarjinalkan, tersisihkan, termiskinkan. Seperti yang kita ketahui. saat ini banyak rakyat-rakyat seperti di Wadas, Jomboran, Pakel, Sangihe, dll yang sedang berjuang agar tidak tergusur dari tanahnya dan sudah sepatutnya kita memebela dan membantunya. Jangan sampai malah sebaliknya, dengan bersekongkol dengan elite-elite penguasa yang mengusik mereka.
Komentar
Posting Komentar