Ngaji "Agama" dari Perjuangan Rakyat Wadas
Diskusi dengan GEMPADEWA tempo hari membuka kenyataan bahwa agama adalah pedoman hidup, entah dalam konteks spiritual dan juga jalan perjuangan. Di Wadas sendiri, rakyatnya selalu bertawakal dan berikhtiar sebagai perlawanan mereka melawan setan tanah. Hal itu tentu menjadi otokritik bagi agama, pemuka agama, dan penganutnya dengan bagaimana sudah seharusnya ketiga elemen tersebut hadir melawan kedzaliman oligarki. Dilain sisi, selain penguasa politik, pemuka agama juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam hal mobilisasi massa keagamaan. Otoritas yang dimiliki para pemimpin agama menjadi senjata ampuh yang bahkan mampu mengontrol preferensi politik umat.
Jika demikian, apa saja peran agama di bumi oligarki ini? Apakah agama-agama menjadi pemeran yang bekerja sama dengan penganutnya melawan ketertidansan oleh rezim? Apakah agama-agama menjadi corong kekuasaan kaum oligark dengan cara menyokong akumulasi kapital dari kekayaan negara? Dalam konteks kali ini, apakah agama-agama berdiri pada posisi salah satu kandidat guna mencari tempat yang nyaman?
Tampilnya agama-agama di bumi oligarki mestinya tidak menjadi relawan pendukung kaum oligark, tetapi menjadi kelompok kritis yang menyediakan alternatif bagi umat dalam rangka eksodus dari ketertindasan. Dengan kata lain, paradigma teologi agama-agama tidak boleh melayani kepentingan kelompok oligarki tetapi menjadi opsi penyelamatan, baik bagi lingkungan hidup yang dirusak oleh industri ekstraktif (pembangunan) maupun bagi manusia yang daya hidupnya dikurangi perlahan-lahan.
Teologi agama-agama sudah seharusnya berbenah untuk melihat secara serius persoalan yang sedang terjadi di bumi oligarki ini. Liberasi umat dari pemiskinan akibat kesenjangan sosial, politik dan ekonomi yang timbul dari rezim tidak lagi secara naif diagendakan dengan menyokong penguasa. Pembebasan, dalam pengertian historis adalah keyakinan bahwa manusia memiliki kesadaran tanggung jawab atas nasibnya sendiri. Dengan demikian, biarkanlah umat beragama menentukan nasibnya sendiri dengan cara membangun perlawanan di tatanan oligarki yang dominatif.
Komentar
Posting Komentar