Ketimpangan Pendidikan Yang Menjamur: Menyoal Kampus Wilayah Yang Kian Termarginalkan Oleh Birokrasi UNY

Pendahuluan

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah institusi pendidikan tinggi yang berpusat di Karangmalang, Sleman. Dalam perkembanganya, UNY mulai melebarkan sayapnya untuk memberikan pendidikan ke daerah-daerah di luar kampus pusat. Dibuktikan dengan dibangunnya kampus-kampus di berbagai wilayah di Provinsi DIY, mulai dari di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan terakhir di Kabupaten Gunungkidul. Pembangunan kampus wilayah tersebut tidak terlepas dari tujuan UNY untuk memeratakan pendidikan di Provinsi DIY. Namun, dalam berjalannya dinamika di internal kampus-kampus UNY tidak terlepas dari polemik di dalamnya.

Permasalahan UKT dan UPPA, Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, PTN-BH, kekerasan seksual di kampus, fasilitas kampus, proses belajar dan mengajar, dan hingga penyelenggaraan kampus wilayah tidak luput dari masalah. Permasalahan UNY Kampus Wates, Kulon Progo contohnya, kampus yang didominasi dengan jurusan vokasi (diploma) tersebut belum mendapat fasilitas belajar dan mengajar dengan maksimal seperti yang didapatkan ketika berkuliah di kampus pusat. Sehingga, pada tahun 2019 kemarin, mahasiswa UNY Kampus Wates berbondong-bondong demonstrasi di depan Rektorat UNY menuntut keadilan, perbaikan, dan menuntut hak akan menerima pendidikan yang merata. Tidak hanya itu, kampus wilayah lain pun tidak luput dari pelbagai masalah di dalamnya.

Dari permasalahan tersebut timbul pertanyaan, apakah mahasiswa kampus wilayah tidak berhak memperoleh fasilitas yang sama dengan kampus pusat? Toh, UKT dan UPPA juga sama yang dibayarkan. Gambaran umum mengenai kampus wilayah perlu dipertimbangkan oleh birokrasi sehingga diperlukan kepekaan untuk menanganinya agar tidak timpang. Efek negatif timpangnya kampus satu dengan yang lainnya sebenarnya bisa diatasi jika tidak pilih kasih yang pada akhirnya merugikan satu sama lain. Sehingga, birokrasi UNY perlu menjalankan amanahnya sebagai pihak yang memiliki wewenang dengan sebaik-baiknya agar masalah ini tidak menjamur.

Tidak menutup kemungkinan jika di kemudian hari ketimpangan-ketimpangan di UNY ini semakin menjadi-jadi. Alih-alih kampus yang dulunya diharapkan sebagai ruang menuntut ilmu dengan aman dan nyaman malah tidak maksimal ketika ada hal-hal yang tidak adil di dalamnya. Sehingga tujuan dari penulisan esai ini merupakan harapan besar mahasiswa UNY yang harus dibenahi birokrasi UNY dalam meningkatkan sarana prasana, mutu pendidikan, keadilan untuk mendapatkan hak antar satu dan lainnya, dll. Tentunya, peran birokrasi UNY bukan hanya sekadar diam dan pasrah dengan keadaan melainkan perlu adanya langkah bijaksana yang perlu dikeluarkan.


UNY dan Eksistensi Kampus Wilayah

Universitas Negeri Yogyakarta adalah institusi pendidikan tinggi yang lahir pada tanggal 21 Mei 1964. Tanggal tersebut awalnya adalah berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) Yogyakarta yang akhirnya berganti nama UNY. Sejarah dibangunnya IKIP Yogyakarta tidak dapat terlepas dengan keberadaan Fakultas Pedagogik (FP) Universitas Gajah Mada yang berdiri pada tanggal 19 September 1955 karena awal mulanya adalah cikal bakal IKIP Yogyakarta. Lalu pada tahun 1999, IKIP Yogyakarta diberi perluasan mandat menjadi Universitas oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden RI nomor 93 tahun 1999 sehingga berganti nama menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Perjalanan UNY hingga pada tahun ini, sudah merayakan Dies Natalisnya yang ke-57 tahun. Tepat 57 tahun yang lalu kampus ini berdiri dan selama itu pula tak henti-hentinya mendidik putra-putri bangsa untuk menjadi generasi penerus berintelektual. Pada dies natalis ini, UNY membawa tema “Pendidikan Bermutu untuk Membangun Peradaban Baru”. Dari hal itu tentu terbesit pertanyaan, pendidikan bermutu itu yang seperti apa? Peradaban baru bagaimana yang akan dibangun? Lalu apakah pendidikan saat ini belum cukup bermutu untuk membangun peradaban? Tentu perlu banyak yang dipersiapkan dalam menyongsong pendidikan bermutu untuk membuat peradaban yang maju. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah refleksi yang berkaitan antara kondisi pendidikan dengan peradaban, terutama di masa pandemi seperti ini.

Dari tema tersebut, dapat disimpulkan bahwa korelasi pendidikan dengan peradaban itu saling berkaitan satu sama lain. Terutama peradaban baru di masa pandemi akan maju jika dibangun oleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan keadaan. Membangun peradaban baru ini harus dimulai dengan membangun pemikiran masyarakat melalui pendidikan yang bermutu, walaupun tidak berarti berhenti membangun bidang-bidang lain. Perlu adanya alternatif kebijakan yang dapat membuat semua elemen masyarakat mendapat pendidikan yang bermutu, terutama di masa pandemi Covid-19 ini. Selain itu, pendidikan juga harus didukung oleh pengajar yang berkualitas, fasilitas yang adil dan memadai, media yang mendukung pembelajaran, peran orang tua, sekolah, lingkungan, dan masyarakat supaya pendidikan benar benar dapat membangun peradaban hidup yang lebih baik.

Dalam membangun peradaban tersebut, UNY mulai melebarkan sayapnya untuk memberikan pendidikan ke daerah-daerah di luar kampus pusat. Dibuktikan dengan dibangunnya kampus-kampus berbagai wilayah di Provinsi DIY mulai dari di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan terakhir di Kabupaten Gunungkidul. Sehingga hingga saat ini UNY memiliki satu kampus pusat dan empat kampus wilayah. Dengan dibangunnya kampus wilayah tersebut harapannya menjadi langkah awal UNY untuk memeratakan pendidikan dalam lingkup Provinsi DIY. Terlebih mahasiswa yang kuliah beralamat rumah sesuai dengan daerah-daerah kampus wilayah tersebut pastinya akan lebih mudah dalam akses akomodasi dan biaya hidup selama kuliah karena jarak yang lebih dekat.

Eksistensi UNY Kampus Wates yang berada di Jalan Bhayangkara No. 07, Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55651 ini diharapkan menjadi solusi guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan jurusan vokasinya (diploma). Adapun pengelola yang bertanggung jawab atas Kampus Wates adalah Bapak Widarto, M.Pd. dan dibantu oleh Bapak Joko Kumoro, M.Si. sebagai sekretaris akademik dan kerja sama, serta Bapak Raden Sunardianta, M.Kes. sebagai sekretaris administrasi umum dan keuangan yang bersatupadu memimpin jalannya proses belajar mengajar di UNY Kampus Wates.

Berdirinya UNY Kampus Wates pada tahun 2000, ketika UNY mengaktifkan kembali gedung SGD (Sekolah Guru Olahraga) yang sebelumnya tidak digunakan oleh pemerintah pada tahun 2001. Terdapat dua gedung utama yaitu Gedung Kuliah (GK) sebagai gedung pusat pembelajaran dan Gedung Layanan Akademik (GLA) yang menjadi pusat pelayanan mahasiswa. Adapun UNY Kampus Wates dihuni tiga fakultas, yaitu Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Setiap harinya ketika sebelum pandemi Covid-19 ada berbagai aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa UNY Kampus Wates, mulai dari kuliah, mengerjakan tugas, rapat organisasi, berolahraga, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19 kampus ditutup sehingga perkuliahan dan organisasi dilakukan secara daring.

Lalu, UNY Kampus Mandala dibangun sekitar tahun 1992-1993 saat dilakukan peningkatan kualifikasi guru yang tadinya setara Sekolah Menengah Atas (SMA) atau lebih dikenal Sekolah Pendidikan Guru (SPG) menjadi minimal memiliki pendidikan Diploma II (D II). Dari hal tersebut lalu berdampak pada kepemilikan gedung sekolah di Jalan Kenari nomor 6 yang dilimpahkan ke IKIP Yogyakarta (UNY jaman dulu) untuk difungsikan sebagai kampus jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PSD). Hingga saat ini kampus tersebut sering dijuluki Kampus 2 UPP 1 FIP UNY atau UNY Kampus Mandala yang berlokasi tepat di sebelah timur SMK N 6 Yogyakarta dan selatan Stadion Mandala Krida.

Di UNY Kampus Mandala ini ditempati untuk kegiatan perkuliahan oleh mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Program studi lain di Fakultas Ilmu Pendidikan juga dapat melangsungkan proses perkuliahan di UNY Kampus Mandala jika ada kesepakatan dan jadwal dengan dosen pembimbing mata kuliah. Adapun Koordinator UNY Kampus Mandala adalah Sudarto, S.Pd. Beliau yang bertanggung jawab atas berlangsungnya proses belajar dan mengajar di kampus tersebut. Dengan adanya UNY Kampus Mandala ini, harapannya dapat memberikan ruang lebih mahasiswa ketika FIP kampus pusat sudah penuh dan berfokus dalam menerima pendidikan.

Fakultas Ilmu Pendidikan UNY masih memiliki satu kampus wilayah lagi yaitu UNY Kampus Bantul yang beralamat di Jalan Bantul No. 50 atau tepatnya di sebelah selatan pojok benteng kulon. Kampus tersebut lebih dikenal dengan sebutan kampus III atau UNY Kampus Bantul dan merupakan cagar budaya awalnya karena di dalamnya terdapat pendopo lawas dan bangunannya yang masih terjaga seperti masa lampau. Kampus ini menjadi tempat perkuliahan dua program studi yakni Pendidikan Guru Anak Usia Dini (PGPAUD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dengan adanya UNY Kampus Bantul ini dan dengan segala fasilitas penunjangnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas akademik UNY yang merupakan perguruan tinggi kependidikan.

Selanjutnya adalah ketika pada tahun 2019 kemarin, UNY membangun kampus wilayah baru di Kabupaten Gunungkidul yang beralamat di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Pembangunan kampus wilayah baru ini merupakan hasil kerjasama antara UNY dengan Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S.Sos. saat itu yang bertujuan untuk pengembangan daerah dengan jumlah dana sekitar Rp 19 miliar. UNY Kampus Gunungkidul ini sementara menjadi kampus vokasi dengan dua fakultas, yaitu fakultas teknik dan fakultas ekonomi. Fasilitas yang disediakan selain ruang belajar terdapat pula fasilitas olahraga, tempat ibadah, ruang praktik atau laboratorium, gazebo, tempat parkir, dan fasilitas penunjang lainnya, tetapi belum digunakan karena masih pembelajaran daring. UNY Kampus Gunungkidul ini awalnya dibuka dengan memprioritaskan 50% calon mahasiswa yang berdomisili di Kabupaten Gunungkidul dan sisanya umum. Dengan dibangunnya kampus ini dapat mendongkrak perekonomian masyarakat, membuka lapangan kerja, serta dapat membuat Kabupaten Gunungkidul lebih berkembang.

Dari esksistensi kampus wilayah tersebut sudah jelas sebagai tempat mengamalkan tri dharma perguruan tinggi, belajar dan membelajarkan, tempat bertanya dan menjawab, mengembangkan ilmu pengetahuan, bersosialisasi, berinteraksi, tempat memberi dan menerima, dan menjadi wahana miniatur bagi kehidupan di luar kampus yang sebenarnya, yang mungkin lebih keras. Unpredictable. Bagi banyak orang lain mungkin kampus memiliki argumen menurut pengalamannya masing-masing. Memiliki ceritanya masing-masing, entah sedih, susah, senang, dan cinta. UNY tidak akan pernah menjadi kampus kalau hanya bicara perihal tempat saja. Mahasiswa-mahasiswa, termasuk interaksi sosial di dalamnya yang membuat kampus itu menjadi ‘kampus sesungguhnya’.

Ajaibnya kampus, bisa membuat ukuran menjadi tidak berarti. Membuat yang berhektar-hektar seakan-akan terasa seluas negara ini. Maka siapa yang merasa kurang puas dengan hanya menguasai semua hal kampus ini? Semuanya ada. Sistem hampir menyerupai negara, orang-orangnya sama beragamnya. Maka, sangat sering menemui banyak mahasiswa yang rela mengorbankan waktunya dan memberikan seluruh jiwa raganya di kampus. Kampus merupakan tempat berkembang. Katanya. Akan tetapi, apakah semua mahasiswa di UNY yang berkuliah di kampus pusat dan kampus wilayah merasakan hak yang sama? Sebuah pertanyaan yang tersirat ketika melihat segala polemik yang terjadi di kampus UNY saat ini.


Kampus Wilayah Yang Termarginalkan

Banyaknya permasalahan menyangkut masalah pendidikan bukanlah hal baru dalam narasi pendidikan Indonesia. Bahkan, setelah melewati 23 tahun perjalanan reformasi, alih-alih menjadi baik malah problematika dalam dunia pendidikan pun tak kunjung menemukan jalan keluarnya. Pandangan bahwa kampus UNY adalah institusi pendidikan untuk ‘memanusiakan manusia’ perlahan memudar. Hal ini seiring terkuaknya berbagai macam kontroversi di dalamnya, seperti permasalahan UKT dan UPPA, Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, PTN-BH, kekerasan seksual di kampus, fasilitas kampus, proses belajar dan mengajar, waktu studi yang semakin ketat dan singkat, hingga penyelenggaraan kampus wilayah tidak luput dari masalah. Terlihat sistematik, memiliki struktur dan pola yang dapat terbaca dan mengandung kompleksitas dalam penjabaran praktek, tetapi entah mengapa jarang dihiraukan. Dari sini lah kritik terhadap birokrasi kampus UNY datang dengan melihat banyaknya permasalahan yang hadir terutama mengenai kampus wilayah.

Kampus wilayah yang seharusnya terdapat mahasiswa-mahasiswa yang lapar akan rasa penasaran. Penasaran akan semua hal dalam keilmuan. Dari perasaan itulah menjadi acuan proses pembelajaran secara akademik serta nonakademik dilaksanakan. Sehingga hanya mahasiswa yang penasaranlah yang akan masuk kelas. Begitu pun juga dalam bidang nonakademik. Rasa penasaran ini sangat penting karena mahasiswa belajar tanpa rasa penasaran itu bagaikan orang yang badannya hidup, namun jiwanya mati. Untuk apa belajar kalau tidak ada niat? Buat apa melakukan sesuatu tanpa hasrat melakukannya? Bukankah hanya kesia-sian yang dirasa? Sehingga, kampus wilayah seharusnya menjadi rumah kedua bagi mahasiswanya yang mampu memberikan kenyamanan bagaikan di rumah sendiri. Proses belajar dan mengajar di UNY Kampus Wilayah harus dinikmati dengan fasilitas yang memadai dan tanpa ada tekanan apapun agar esensi utamanya belajar dapat diserap.

Namun, itu semua bisa jadi sirna ketika permasalahan UNY Kampus Wilayah semakin menjamur. UNY Kampus Wates, Kulon Progo contohnya, kampus yang didominasi dengan jurusan diploma tersebut belum mendapat fasilitas belajar dan mengajar dengan maksimal seperti yang didapatkan ketika berkuliah di kampus pusat. Pada tahun 2019 lalu, sebagian mahasiswa UNY masih harus berjibaku melaksanakan kebijakan birokrasi UNY yang belum bijak karena terpaksa kuliah di kampus pusat lalu ke UNY Kampus Wates hanya untuk kuliah teori dan praktek yang sebenarnya bisa dilakukan di kampus pusat saja. Puncaknya, ketika ada mahasiswa yang kecelakaan ketika akan berangkat ke Kampus Wates, sehingga mahasiswa UNY Kampus Wates berbondong-bondong demonstrasi di depan Rektorat UNY menuntut keadilan, perbaikan, dan menuntut hak akan menerima pendidikan yang merata. Dari aksi itulah, perlahan UNY Kampus Wates mulai dibenahi oleh Birokrasi UNY dengan memfokuskan menjadi kampus vokasi dengan tiga fakultas yaitu FT, FE, dan FIK.

Di sisi lain, kampus wilayah di Mandala dan Bantul pun sama masalahnya. Sama-sama terkendala di fasilitas yang kurang memadai. Di UNY Kampus Mandala fasilitas seperti AC ada yang tidak menyala, meja banyak yang tidak layak, pagar yang mulai usang karena dari dulu belum direnovasi, sistem administrasinya pun harus ke kampus pusat, serta ormawa yang ada hanya HIMA PGSD saja. Di UNY Kampus Bantul sendiri hanya digunakan sebagai transit karena setelah semester empat nanti dipindah pusat, tidak memiliki pengurus kampus, fasilitas AC ada yang tidak berfungsi, wifi terlalu lambat, banyak berdampingan dengan anak kecil karena bersebelahan dengan SD dan TK, kadang berebut kelas dengan SD, dan belum ada kantin untuk mahasiswa. Tentu menjadi pekerjaan rumah besar untuk birokrasi UNY untuk membenahi fasilitas karena itu adalah hak mahasiswa. Agar mahasiswa tidak bolak-balik dari UNY Kampus Pusat ke Bantul yang akan berimbas keselamatan saat di perjalanan karena mengejar waktu.

Lalu pada tahun 2019, samar-samar terdengar kabar desas-desus kalau UNY akan membangun kampus wilayah baru di Kabupaten Gunungkidul. Katanya, tujuan dibangunnya kampus ini salah satu cara untuk pemerataan pendidikan di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini tentu memunculkan banyak pro dan kontra dari para mahasiswa yang mendengarnya. Banyak mahasiswa yang menganggap bahwa kampus wilayah lain aja belum memadai malah ditambah pembangunan kampus baru lagi. Sehingga muncul pertanyaan, apakah waktunya sudah tepat? Sebenarnya bukan keputusan yang buruk, akan tetapi apakah tidak sebaiknya menyempurnakan dulu kampus wilayah yang sudah ada. Karena kurang adil apabila sebagian mahasiswa sudah merasa nyaman kuliah di kampus pusat, sedangkan mahasiswa kampus wilayah masih harus kuliah dengan pulang pergi dua kampus karena fasilitas yang belum memadai. Semoga menjadi pertimbangan yang matang dari pihak UNY terkait pembangunan kampus di Gunungkidul hingga selesai pembangunannya kelak agar tidak terjadi lagi masalah yang timbul.

Dari semua penjabaran permasalahan kampus wilayah diatas, merupakan hal-hal yang kini menjadi keresahan mahasiswa karena takut nantinya akan terjadi ketidaknyamanan dalam proses belajar dan mengajar karena fasilitas yang ada di kampus wilayah. Memang betul semua butuh proses, namun apakah mahasiswa kampus wilayah harus terus menanggung sebuah proses yang mereka jalani selama kuliah nanti. Mereka pastinya memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan mahasiswa UNY pusat karena sama-sama membayar UKT. Apabila nantinya proses belajar dan mengajar serta fasilitas di kampus wilayah belum memadai pastilah hal ini akan menimbulkan polemik dari tengah mahasiswanya. Pihak Birokrasi UNY jangan hanya menganggap hal ini sebagai proses pembangunan kampus belaka. Namun, dari pihak mahasiswa yang pasti juga harus mengingatkan ke Birokrasi UNY mengenai hak-hak mereka sebagaimana mestinya lewat kritik-kritik yang hadir. Pengelolaan kampus wilayah memang harus profesional dari segala persiapan hingga selesai agar nantinya tidak menimbulkan masalah seperti yang terjadi sebelum sebelum-sebelumnya.

Sehingga mengapa kemudian perlu dihadirkan banyak kritikan terhadap kebijakan Birokrasi UNY, dengan diarahkan untuk tidak hanya menyasar figur rektor seorang. Akan tetapi juga menargetkan kerangka filosofis yang berdiri di belakang ‘sistem birokrasi UNY’ yang dijalankan oleh aktor-aktor di fakultas hingga jurusan juga. Ambillah contoh bagaimana lemahnya kritik terhadap keputusan Rektor UNY saat soal pembangunan UNY Kampus Gunungkidul di akhir pemerintahannya. Bagaimana beliau kemudian bersikukuh untuk membangun UNY Kampus Gunungkidul padahal kampus wilayah lain belum memadai. Hal yang jika disikapi secara kritis, maka tampak jelas bahwa keputusan ini sebagai bentuk implementasi dari UNY yang semakin menegaskan sebagai institusi pendidikan hanya alat kampanye politik rektor tersebut. Dengan membangun UNY Kampus Gunungkidul, UNY telah mengambil langkah maju alih-alih memeratakan pendidikan malah untuk melakukan kampanye politik rektor saat itu untuk mencalonkan diri di Pilkada Gunungkidul sebagai calon Bupati.

Absennya dialektika terkait transformasi radikal dalam anatomi polemik UNY Kampus Wilayah tidaklah mengejutkan. Hal ini berjalan beriringan dengan degradasi serius terkait pemahaman bahwa UNY adalah insitutusi pendidikan yang seharusnya mensyaratkan pelibatan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan. Pasifikasi dan pelumpuhan partisipasi mahasiswa dalam menentukan arah UNY menjadi bukti sejauh mana sukses memarginalkan kampus wilayah. Menegaskan bahwa UNY Kampus Wilayah telah benar-benar tidak lagi menjadi urusan bersama, namun telah menjadi persoalan yang menjamur. Kritik-kritik parsial yang diajukan adalah bukti bagaimana ternyata masih gagal melihat secara holistik dan radikal persoalan kampus wilayah. Bahwa hal-hal yang disebutkan dalam tulisan diatas merupakan bagian-bagian dari perangkat perilaku yang merupakan hasil langsung dari kebijakan birokrasi UNY. Degradasi kapasitas dan kapabilitas mahasiswa di UNY dalam mengawal polemik kampus wilayah adalah buah dari persoalan historis dan filosofis pendidikan di UNY sehingga membuat kampus wilayah semakin termarginalkan.


Bangun Marwah Kampus Wilayah Semakin Bermakna

Marwah UNY Kampus Wilayah akan menjadi tempat yang menemani mahasiswa-mahasiswa beruntung dalam waktu yang tak lama. Ilmu yang akan diterima selama kuliah kelak akan menjadi batu pijakan untuk menantang kehidupan. Demikian bentuk idealnya. Itukah yang akan terjadi? Setiap kampus, lazimnya memang menjamin setiap alumninya dan jaminan pasti salah satunya adalah menjadi pengangguran. Sehingga, jangan jadikan sarjana itu tujuan utamanya. Terlebih, jangan terlalu meyakini bahwa IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi itu segalanya. Sudah banyak kepercayaan kalau IPK tinggi tak menjamin segalanya. Lihat saja, banyak tokoh, para ilmuan, para pengusaha, hingga artis yang kuliahnya pernah gagal, namun karirnya gemilang. Jangan terlalu memaksa berburu IPK, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Singkatnya, kuliah tidak hanya berpusat pada apa yang ada di kelas dan apa yang dikatakan oleh dosen. Maka dari itu, biarkanlah petualangan mencari ilmu yang bermanfaat membawamu ke sana kemari.

Terlebih organisasi di UNY Kampus Wilayah akan memberi pengalaman yang tak dapat diperoleh selama hidup. Dilatih untuk melawan apa yang memang sepatutnya dilawan. Menolak korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, hingga membela mereka yang termarginalkan oleh keadaan. Di sanalah dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Dalam organisasi tersebut merupakan pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal apapun. Maka, jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Tidak sedikit mahasiswa yang punya pengalaman mengikuti organisasi kampus kini mempunyai kenangan manis. Kenangan ketika mengkritik pemerintah yang tidak adil, menentang aparat yang brutal, dan melawan pada kebijakan yang merugikan. Bukan hanya kenangan, tetapi mereka menuai hasil yang sepadan: lebih berani mengambil situasi, tak gampang menyerah pada pendirian, dan menghargai kebebasan perbedaan pendapat. Itu sebabnya, organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya. Dasar hidup itu yang akan membawa mahasiswa UNY Kampus Wilayah yang beroganisasi pada keyakinan untuk selalu memihak ketika ada rakyat yang ditindas dan tak mudah membuat untuk membenarkan setiap putusan yang membawa perkara.

Sebagai mahasiswa UNY Kampus Wilayah, tugas besar mengawal kebijakan kampus selalu menanti di depan, terkadang kebijakan-kebijakan kampus banyak yang merugikan mahasiswa. Tidak jarang pula, petinggi-pentinggi kampus bersekongkol dengan elit oligarki negara ini. Memang tidak mudah untuk mengawal semua ini. Oleh sebab itu, harus terjun langsung, berpetualang kesana kemari, mengawal kebenaran dunia kampus. Kebijakan-kebijakan seperti di kampus wilayah itu sendiri, PTN-BH, fasilitas yang belum memadai, pelarangan diskusi dan konsolidasi, pemberangusan demokrasi kampus, naiknya UKT (Uang Kuliah Tunggal), semakin tingginya UPPA, maraknya kasus kekerasan seksual, dan masih banyak isu lain untuk dikawal. Kesadaran terhadap realitas inilah merupakan harapan untuk mahasiswa kampus wilayah, walaupun sangat disayangkan bahwa kesadaran adalah selemah-lemahnya perlawanan. Jadi, mari memulai untuk sadar akan situasi kampus ini.

Setelah sadar akan kondisi kampus, mari tatap wajah negara ini karena kebingungan untuk membuat rakyatnya sejahtera: diganti menteri, diganti kebijakan, hingga diganti kurikulum. Negara kehabisan akal karena belum punya kebijakan, gagasan, ide, dan keberanian untuk mengambil jalan yang baru. Negara yang teramat kaya ini tidak bisa menggratiskan biaya pendidikannya.9 Negara ini adalah negara yang uzur. Sudah merasakan kemerdekaan lebih dari tujuh dasawarsa, tetapi belum mampu memberikan jaminan apapun kecuali jaminan ketidakpastian. Menjadi mahasiswa di negara yang mengalami kesusahan. Peminta-minta menjadi hiasan di sudut-sudut perempatan jalan. Sudah saatnya realitas ini dibahas tuntas di ruang-ruang kuliah UNY Kampus Wilayah karena kampus saat ini gagal menjelaskan realitas ini. Karena lambat laun pendidikan lebih banyak mengajarkan fantasi dan mimpi yang tak pernah mendekatkan dengan keadaan sekitar.

Mari mencari ilmu dan pengalaman seluas-luasnya agar memutus rantai kegelapan negara ini. Biarkan amarah mahasiswa UNY berkobar melihat ketidakadilan disekitar dan jangan takut untuk membela mereka. Mungkin tak ada dukungan atau mungkin dijatuhi hukuman. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa itu adalah hasil terindah dari sebuah usaha perjuangan. Kini, gedung-gedung UNY Kampus Wilayah akan jadi saksi bisu pertumbuhan perjuangan mahasiswanya. Setiap jejak mahasiswa UNY Kampus Wilayah akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentuk dalam diri setiap insan. Jika bibit berani yang ditanam niscaya akan bertumbuh tanpa rasa takut. Kalau bibit empati yang ditanam niscaya kelak juga akan jadi mahasiswa yang peka dan mudah menerima. Maka, jadilah mahasiswa UNY Kampus Wilayah yang peka terhadap sekitar dan meneruskan perjuangan generasi bangsa Indonesia ini.

Bisa bergerak dari sekarang dengan menjadi mahasiswa UNY Kampus Wilayah yang merdeka sejak dalam pemikiran dan perbuatan. Tantanglah semua yang dianggap tidak adil dan zalim. Beranikan diri untuk melawan tabir-tabir ketakutan yang diberikan oleh penguasa masa kini dan lampau. Meski waktu tidak banyak, cobalah untuk sedikit mendobrak tatanan yang buntu ini dengan kekuatan intelektual. Mahasiswa UNY Kampus Wilayah haruslah terus terlibat menyudahi tatanan yang usang ini agar tidak terlampau gagal. Lantas, apa yang bisa diperbuat? Berorganisasilah. Berkumpullah bersama kawan seperjuangan. Di organisasi, mahasiswa akan mengalami, mengerjakan, dan mengatasi pelbagai perkara bersama-sama. Bawa organisasi UNY Kampus Wilayah ini untuk meruntuhkan pengalaman sesat berpikir mahasiwa dalam menerima pendidikan. Bekali pribadi dengan kekuatan berikut, yang tidak boleh dianggap enteng: membaca, lalu menulis. Membaca membuat lebih mengenal dunia dengan semua permasalahannya. Menulis akan mengenalkan siapa mahasiswa sebenarnya.

Melihat persoalan UNY Kampus Wilayah dengan membaca dan menulis akan membuat bisa memahami, misalnya, mengapa dalam berjalannya dinamika UNY Kampus Wilayah semakin termarginalkan? Mengapa belum ada kebijakan yang mutakhir oleh Birokrasi UNY untuk menuntaskan ketidakdilan dalam memberikan hak yang sama ke mahasiswa? Mengapa kemudian semakin jarang menemukan mahasiswa yang menanggapi kompleksitas permasalahan kampus wilayah ini? Mengapa kemudian gerakan mahasiswa justru cenderung tidak menanggapi permasalahan yang terjadi di kampus wilayah? Maka dari itulah, mari bangun gerakan mahasiswa untuk terjaminnya hak kampus wilayah dan mahasiswanya untuk menerima prioritas yang sama satu dengan yang lainnya. Agar marwah UNY Kampus Wilayah akan semakin bermakna dan tidak berakhir pada kesia-siaan.


Kesimpulan

Dari uraian-urain yang telah dipaparkan jelas menandakan bahwa dinamika persoalan UNY Kampus Wilayah selalu menarik untuk diperbincangkan. Terlebih ketika disandingkan dengan tujuan UNY yang akan menuju World Class University. Sehingga secara tidak langsung menuntut bagian-bagian UNY yang ada untuk mengimbanginya berjalannya. Hadirnya UNY Kampus Wilayah diharapkan akan berdampak pada pembangunan mutu dan kualitas pendidikan di UNY sebagai institusi pendidikan. Ukuran pembangunannya pun melibatkan banyak faktor, seperti sarana prasarana, kurikulum, dosen, dan metode pengajaran yang digunakan untuk proses belajar dan mengajar. Faktanya, berbagai faktor tersebut belum terimplementasi secara maksimal di UNY Kampus Wilayah. Ketimpangan pendidikan masih ditemui di UNY Kampus Wilayah, bahkan di UNY Kampus Pusat sekalipun. Kebijakan Birokrasi UNY, minimnya akses menerima pendidikan, serta kualitas fasilitas yang belum memadai menjadi penyebab utama. Keluhan-keluhan mahasiswa UNY Kampus Wilayah seharusnya menjadi catatan menohok bagi birokrasi UNY untuk mengeluarkan kebijakan terbaik.

Terlebih ketika Pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia sejak Maret 2020 lalu yang berdampak pada perubahan aktivitas di semua sektor, tidak terkecuali pendidikan. Dari hal itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh melalui sistem daring sebagai upaya untuk menekan penyebaran Pandemi Covid-19 di lingkungan kampus. Kebijakan tersebut menuai cukup banyak pro dan kontra, terlebih diterapkan tanpa persiapan yang matang. Penerapan sistem pembelajaran jarak jauh secara daring mengharuskan dosen dan mahasiswa mampu beradaptasi dengan cepat. Sehingga pembenahan UNY Kampus Wilayah perlu dihadirkan sebagai salah satu kunci dalam implementasi kualitas mutu pendidikan di UNY. Berjalannya pun harus dilakukan dengan riset memerhatikan kondisi lapangan secara aktual dan nyata. Sebelum pembelajaran jarak jauh secara daring benar-benar menambah timpangnya pendidikan, aspek-aspek yang memperbesar ketimpangan pendidikan sebelumnya perlu diselesaikan terlebih dahulu oleh pemangku kebijakan.

Jika berbagai persoalan sarana prasarana, sistem, model hingga kurikulum pembelajaran telah terpenuhi dan dapat berjalan beriringan di UNY Kampus Wilayah, maka mutu pendidikan di UNY pun setidaknya bisa dikejar. Tujuan UNY untuk membangun generasi unggul yang berlandaskan taqwa, mandiri, cendekia bisa diwujudkan. Kemudian yang terpenting dari pendidikan adalah lahirnya generasi yang siap membangun bangsa dan negara. Sudah saatnya birokrasi UNY melakukan pembenahan terkait pendidikan yang lebih serius dalam berbagai aspek. Membentuk sistem pendidikan di UNY yang berkualitas serta cocok digunakan terhadap segala bentuk perubahan kondisi kelak. Tentu saja dalam proses pembenahan tersebut tidak bisa dilakukan oleh pemangku kebijakan saja. Perlu dilakukan dalam bingkai kolaborasi antar berbagai elemen. Bagaimanapun, UNY Kampus Wilayah memilik hak dan bagian dari UNY bukan hanya pelengkap atau penunjang saja.

Peran dan kolaborasi antara pemerintah, Birokrasi UNY, dosen, mahasiswa dan tentu saja masyarakat sangat dibutuhkan. Setidaknya rantai ketimpangan pendidikan yang ada saat ini dapat diminimalisir lewat kebijakan yang disahkan pemerintah dan birokrasi UNY. Fokus membenahi sarana prasarana yang ada, memastikan semua mahasiswa mendapatkan akses pendidikan setara di UNY Kampus Pusat maupun UNY Kampus Wilayah. Memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dosen dan yang paling penting memahami secara kolektif arah tujuan pendidikan di UNY. Hal ini lazimnya menjadi catatan civitas academica UNY untuk direnungkan bersama. Karena fundamentalnya, pendidikan bukan hanya sekadar sarana belajar dan mengajar saja. Melainkan, sebagai wadah untuk merealisasikan perubahan dan mewujudkan keadilan bersama.


Daftar Pustaka

Ikhsan Abdul Hakim, “Mahasiswa D4 FT Korban Kecelakaan Berhak Dapat Asuransi”, Ekspresi Online, 7 Desember 2019. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman https://ekspresionline.com/mahasiswa-d4-ft-korban- kecelakaan-berhak-dapat-asuransi/)

“Sejarah UNY”, uny.ac.id. (Diakses pada 19 Oktober 2021 di laman https://www.uny.ac.id/profil/sejarah-uny)

“Arti Logo Dies 57”, diesnatalis.uny.ac.id. (Diakses pada 19 Oktober 2021 di laman http://diesnatalis.uny.ac.id/?q=arti-logo-dies-57)

Susi Susanti & Sepvina Cindy Fatmawati, “Profil Kampus Wates”, bemfip.student.uny.ac.id. (Diakses pada 19 Oktober 2021 di laman http://bemfip.student.uny.ac.id/pkkmb/profil-kampus/wates/)

Kurnia Setyo Wibowo & Muhammad Rio Wijaya Matanggawan, “Profil Kampus Mandala”, bemfip.student.uny.ac.id. (Diakses pada 19 Oktober 2021 di laman http://bemfip.student.uny.ac.id/pkkmb/profil-kampus/mandala/)

Albi Febita, “UNY Bangun Kampus Baru atau Bangun Masalah Baru?”, wartafeno.com, 11 Maret 2020. (Diakses pada 19 Oktober 2021 di laman http://wartafeno.com/2020/03/11/uny-bangun-kampus-baru-atau-bangun- masalah-baru/)

Kiki Luqmanul, “Viral Pamit Rektor UNY Mundur Demi Pilkada Gunungkidul”, tagar.id, 1 Oktober 2020. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman https://www.tagar.id/viral-pamit-rektor-uny-mundur-demi-pilkada- gunungkidul)

Eko Prasetyo, “Selamat Datang Mahasiswa Baru”, indoprogress.com, 11 Agustus 2016. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman https://indoprogress.com/2016/08/selamat-datang-mahasiswa-baru-2/)

Iqbal Musyaffa, “Sekolah Gratis Adalah Hak Masyarakat”, mediaindonesia.com, 2 Mei 2017. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman

https://mediaindonesia.com/humaniora/102945/sekolah-gratis-adalah-hak- masyarakat)

Nadya Karima Melati, “Mengapa Banyak Orang Tetap Bodoh Walau Membaca Buku”, dw.com, 18 Juni 2018. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman https://www.dw.com/id/mengapa-banyak-orang-tetap-bodoh-walau- membaca-buku/a-44253209)

“Strategi UNY Menuju WCU”, uny.ac.id, 12 Desember 2018. (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman https://www.uny.ac.id/berita/strategi-uny-menuju- wcu)

Rizqon Halal Syah Aji, “Dampak Covid-19 pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah, Keterampilan, dan Proses Pembelajaran”, Jurnal UIN Jakarta, Volume 7, No 5 (2020). (Diakses pada 20 Oktober 2021 di laman http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/salam/article/view/15314/0)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilwa UNY 2021 dan Gerakan Politik Alternatif

Menilik UNY Menuju PTN-BH

Rindu Sahabat